Memilih strategi regulasi yang tepat untuk mendorong adopsi teknologi informasi kesehatan di Indonesia

November 21st, 2011

Pelayanan kesehatan yang bermutu, terjangkau (dari segi waktu, biaya maupun geografis) serta aman tentu merupakan harapan setiap warga negara. Banyak cara (apalagi tantangan) untuk mencapai ke sana. Salah satunya dengan menerapkan sistem teknologi informasi kesehatan yang komprehensif. Tidak sedikit literatur yang membuktikan kisah suksesnya. Lalu, apakah kita hanya berharap begitu saja agar rumah sakit atau puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya mengadopsi inovasi tersebut? Continue reading »

Seminar tentang standar pertukaran data rekam medis elektronik 8 Juli 2011

June 10th, 2011

Meskipun belum banyak, beberapa rumah sakit di Indonesia sudah mulai menerapkan rekam medis elektronik. Tidak dipungkiri bahwa setiap rumah sakit memiliki strategi tersendiri dalam mengembangkannya. Bagi yang memiliki sumber daya yang tangguh, mereka mungkin akan mengembangkan sendiri (inhouse development). Tidak sedikit pula yang kemudian bekerjasama dengan pihak ketiga (baca vendor). Vendor pun juga bermacam-macam. Jika dulu orang hanya mengenal vendor sistem informasi rumah sakit yang secara umum menawarkan sistem billing (penagihan), kini bermacam vendor masuk ke rumah sakit. Ada yang mengkhususkan diri untuk menangani sistem informasi laboratorium,  pencitraan medis (medical imaging) sampai dengan business intelligence. Karena pada akhirnya data pasien harus divisualisasikan dalam satu tampilan, situasi ini menimbulkan pertanyaan, bagaimanakah pertukaran data dari berbagai sumber tersebut? Apa saja standar yang diperlukan agar sistem bisa saling bertukar (interoperabel) satu sama lain? Interoperabilitas tidak hanya dalam satu rumah sakit, bahkan mungkin juga antar rumah sakit.  Topik ini akan dibahas dalam seminar internasional mengenai standar pertukaran data rekam medis elektronik di RSCM pada 8 Juli 2011 nanti.  Info lebih lanjut terdapat di brosur di bawah ini.

Berapa banyak Puskesmas yang telah mengadopsi sistem informasi puskesmas berbasis komputer?

October 31st, 2009

Barusan, saya mendapat pertanyaan dari Alvin Marcelo, dokter aktivis informatika kesehatan/FOSS sekaligus dokter bedah di UP. Pertanyaannya, “Anis, in your estimate, how many simpus implementations are out there in Indonesia?”. Hmm..njawabnya gampang. Bener tidaknya nggak tahu he..he.he. Pertanyaan ini didasari oleh kekagetan Alvin di GCOS saat bertemu   Jojok yang telah berpengalaman menjelajah NKRI untuk jualan dan melatih Simpus Jojok.  Survei GDS (Governance and Decentralization Survey) yang mengambil sampel di beberapa provinsi dan kabupaten mencatat sekitar 80% puskesmas telah dilengkapi dengan komputer.

Lalu, tentang jawaban dari pertanyaan tadi?  Perkiraanku, maksimal 2000 puskesmas telah dilengkapi dengan sistem informasi berbasis komputer. Kalau ternyata lebih, wah senang sekali. Rinciannya bagaimana? Jojok di 400an puskesmas (atau lebih?), Dinkes Ngawi dan Dinkes Purworejo telah menerapkan di beberapa daerah lain. Simkes IKM FK UGM dengan Wonosobo dan Sleman serta beberapa daerah lain yang sedang berjalan. GTZ dengan SimpusNAD (di Aceh) dan Siskes (NTB dan NTT). Beberapa kabupaten lain yang bekerjasama dengan vendor (seperti Exindo di DIY dan lainnya).  Ada juga yang bekerjasama dengan universitas (FKM Unud, ITB, FKM UI, lainnya?).

Dari sinilah, sebenarnya perlu disepakati tentang standar pertukaran data. Pertukaran data perlu dibedakan antara pertukaran data individual dan pertukaran data program. Ini saatnya (sebelum semakin terlambat), Pusdatin dan Binkesmas mengambil peran sebagai leader dan bekerjasama dengan berbagai pihak untuk menyepakati mengenai standar tersebut.

Menggagas kebijakan nasional TIK untuk kesehatan dan tautan lain

April 22nd, 2008

Sebenarnya merupakan artikel lama. Daripada tidak ada posting baru, ya bikin link ke tulisan tersebut yang dimuat di Majalah EIndonesia.

…Jika tidak ada kebijakan yang jelas, jangan-jangan sektor kesehatan akan menjadi kuburan berikutnya kegagalan penerapan teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia.”

Ini juga ada tautan yang menarik untuk dibaca di majalah Swa tentang penerapan sistem dan teknologi digital di rumah sakit.

Resume seminar E-healthcare di JIH dapat diakses di situs mas Dani dan blog mahasiswa Simkes 07.

Standar pendidikan dokter, kompetensi dokter dan informatika kedokteran

January 17th, 2007

Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan dokumen Standar Pendidikan Dokter dan Kompetensi Dokter dari mas dr. Yoyo Suhoyo, staf muda di Bagian Pendidikan Kedokteran UGM. Dokumen ini disusun oleh Konsil Kedokteran Indonesia (KKI). Terus terang saya belum tahu apakah dokumen ini sudah final atau masih draf. Disebutkan bahwa dokumen ini adalah amanat UU no 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran pasal 27 tentang perlunya Standar Pendidikan Dokter untuk mendukung pendidikan kedokteran yang berbasis kompetensi dan sesuai dengan standar. Standar yang disusun tersebut masih memberikan keleluasaan bagi masing-masing fakultas untuk melakukan penyesuaian dan tidak dimaksudkan sebagai penyeragaman. Yang menarik, acuan umum tentang standar ini mengikuti model WFME (World Federation of Medical Education) – yang sudah dipublikasikan sejak tahun 2000. Jika, ini baru diberlakukan sekarang, ya bisa dihitung sendiri gap antara pendidikan di sini dengan di luar. Bagaimanapun juga, saya menyambut gembira adanya dokumen tersebut.
Continue reading »

Smart Card untuk Asuransi Kesehatan di Taiwan

November 2nd, 2006

Salah satu pengalaman berharga dari kunjungan ke Taiwan kemarin adalah melihat implementasi smart card untuk asuransi kesehatan dan berdiskusi dengan salah satu anggota tim yang merancangnya yaitu Prof Chien-Tsai Liu dari Graduate Institute of Medical Informatics, Taiwan Medical University.
Continue reading »

- online valtrex order - buy asacol - spy a cell phone - generic levitra -