Pure and simple “truths” from administrative data

May 8th, 2012

Recent editorial in JAMA discusses an original research using administrative data[1] which appears in the same edition. The authors underscore the difficulty to find “pure and simple” truths due to inherent limitations from such source. They explain four factors: new guideline, new diagnosis code, new diagnostic test and lack of prognostic indicators which should be cautiously taken into consideration by researchers, before deriving conclusion.

While those factors are technically correct, however the authors forget to mention the long-standing issue related to the quality of claim data: fraud, waste and abuse. Indeed, it is part of systemic problem in US health care, causing careless spending between $82 billion and $272 billion in 2011[2]. Cases of health care fraud and abuse turn into more complexes, involving different types of health care professionals, sophisticated modus operandi and even crime organized. US government has launched Health Care Fraud Prevention and Enforcement Action Team (HEAT) to encounter. Beside via routine mechanism, fraud investigations are usually started following any anomalies detected by data analysis and algorithm[3]. From this point of view, performing low cost research (using administrative data) could serve to give feedback and provide early sign to save billion dollar healthcare spending. Continue reading »

Towards acceptable health information systems quality in low-resource settings: still simple and practical approach?

April 23rd, 2012

I  enjoy reading the publication of Mphatswe et al[1] reporting superb effort to improve health information management practice in a low-resource setting. They claim to perform a simple and practical solution to increase data completeness (from 26% to 64%) and accuracy (from 37% to 65%) applied in prevention of mother-to-child transmission (PMTCT) program in health facilities of Kwazulu-Natal, South Africa.

Even though the quality is much improved, the authors admitted that it was still below the acceptable standard of health information system. We assume that, this great achievement was occurred due to the very poor baseline health information management practice[2]. Once this improvement achieved, the critical point is that do we believe that similar simple and practical recipe will work in the later stage? Continue reading »

Tenaga SIK, siapakah dia?

January 28th, 2012

“Tenaga SIK, maksudnya tenaga yang sick?” celetuk Prof Eko Indrajit, saat dr. Jane Supardi menanyakan terminologi yang lebih baik SDM atau tenaga SIK. Saat ini memang hanya tenaga rekam medis yang dikenal sebagai satu-satunya tenaga kesehatan yang terkait dengan aktivitas sistem informasi kesehatan. Sebenarnya ada profesi lainnya yaitu statistisi, pranata komputer, arsiparis tetapi ini bukan tenaga kesehatan. Tenaga epidemiologis juga sangat dekat dengan SIK. Pertanyaan pentingnya adalah apakah perlu diusulkan terminologi khusus tenaga SIK? Kalau ya, apa alasannya, mengapa jenis tenaga saat ini tidak bisa memenuhi harapan? Kemudian, apa kompetensi serta kualifikasi pendidikan dan pelatihannya? Hal inilah yang menjadi salah satu topik pembahasan pada waktu diskusi di Pusdatin pada 26 Januari lalu. Continue reading »

Desa siaga: pemberdayaan, sistem informasi dan kelembagaan

February 11th, 2007

Satu jam yang menyenangkan membicarakan desa siaga. Di ruang Simkes yang sempit, Sabtu kemarin kami mengundang mbak Budi Wahyuni, dr. Kristiani, drg. Senik Windyati, mas Arie Sujito dan pak Haryanto untuk sekedar ngobrol tentang desa siaga (istilah lain untuk rapat koordinasi seminar dan menyamakan persepsi). Bu Kris pertama kali menyampaikan bahwa tujuan program ini adalah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mendeteksi dan mengatasi masalah kesehatan desa secara mandiri. Lontaran tajam pertama dari mbak Budi yang mencurigai bahwa program desa membawa pesan implisit bahwa pemerintah akan melepaskan (alias “ngeculke”) tanggung jawab finansial pemerintah dalam mewujudkan kesehatan kepada masyarakat. Memang tidak dipungkiri bahwa sehat tidak hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi masyarakat sendiri juga berperan. Sehingga, pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu kunci. Menurut mas Arie, pemberdayaan bukanlah sulapan. Memberdayakan masyarakat berarti memberikan informasi kesehatan yang tepat dan lengkap kepada masyarakat, agar mereka mengerti tentang baik-buruknya alternatif yang tersedia serta bertanggung jawab terhadap pilihannya.
Continue reading »

Selamat buat Tita, Niko dan Dina

February 3rd, 2007


Jumat, 1 Februari kemarin, ketiga makhluk lucu mahasiswa Fakultas Kedokteran UGM angkatan 2003 ujian pendadaran skripsi. Ketiganya mengambil topik yang saling berkaitan satu sama lain di kota Jogja. Tita memilih judul analisis spasial TB Juli Desember 2004, Niko mempresentasikan analisis spasial DBD 2004-2005 sedang Dina menganalisis hasil penyelidikan epidemiologis DBD tahun 2006. Terima kasih kepada Dinkes Kota Jogja (dr. Choirul, mbak Susi dan pak Yoga) yang mengijinkan mereka bertiga memanfaatkan data register TB dan DBD untuk diutak utik. Jika Dina hanya menganalisis data sekunder tersebut, Tita dan Niko melengkapinya dengan data primer melalui pengumpulan koordinat lokasi pasien TB dan DBD. Bagiku, mereka sudah melakukan sesuatu yang luar biasa. Paling tidak, jauh lebih baik dari aku (sebagai salah satu pembimbingnya). Waktu itu aku meneliti perilaku mencari informasi kesehatan secara elektronik pada mahasiswa program jarak jauh di MMR dan KMPK dengan pembimbing pak Coco dan bu Uut. Itupun hanya ditulis dalam bentuk skripsi, sedangkan mereka menulisnya dalam bentuk skripsi dan naskah publikasi. Mereka belajar keras menggunakan Epimap, padahal angkatan mereka termasuk yang “kelewatan” tidak belajar Epi Info. Presentasinyapun meyakinkan, apalagi Tita yang medhok banget jawanya ketika menceritakan rumitnya mengumpulkan data (eh bahasa Indonesianya “nrithik” opo yo Ta…). Ujiannyapun berlangsung greng dan santai, meskipun molor. Pak Hari terlambat karena ada rapat di tempat lain, sehingga harus dimulai dulu. Karena sudah ada jadwal menguji di tempat lain, akupun tidak bisa mengikuti tanya jawab dengan Dina sampai selesai, dan pamit duluan sambil membawa bekal makanan cukup banyak he..he..he..
Continue reading »

SIG di kesehatan masyarakat: tidak hanya untuk P2PL saja

December 10th, 2006

Seminggu yang lalu (3 Desember 2006), saya dan prof Hari Kusnanto mendapatkan undangan istimewa dari Dinkes Sulteng untuk berbicara dalam pertemuan evaluasi SP2TP dan sosialisasi GIS (geographical information system). Adalah mbak Bertin Ayu Wandira, staf Dinkes Sulteng yang juga mahasiswa SIMKES 2005, pemrakarsa acara (sekaligus MC pertemuan he..he..he..) yang ber-repot-repot mengklopkan agenda kami dengan jadwal acara tersbut. Ini adalah kali kedua saya ke Palu. Pada tahun 2003, saya bertemu dengan pak Imam Subekti (sekarang sudah di Depkes, Kuningan), pak Zainal (masih di DHS) serta beberapa teman dari kabupaten maupun dinkes propinsi sendiri. Pak Hari ternyata baru sekali ini menginjakkan kakinya di Palu.
Continue reading »

Bangsa dengan budaya (tidak) selamat?

December 1st, 2006

Akhirnya, pipa gas Pertamina meledak juga. Hal ini sudah dikhawatirkan sejak awal bencana lumpur panas Lapindo. Yang pasti, sudah 7 orang dipastikan tewas, belasan lainnya luka-luka. Perusahaan pengguna gas sudah harus bersiap-siap kehilangan pasokan gas. Pertamina sedang menghitung kerugian, sambil berharap akan dibayar oleh penanggungjawab banjir lumpur di lahan Lapindo.
Continue reading »

Sepuluh juta skala Richter

July 16th, 2006

Sampai dengan minggu lalu, gempa susulan masih terjadi. Saking seringnya, muncul guyonan orang Jogja dapat memperkirakan kekuatan gempa hanya dengan duduk di kursi saat gempa terjadi. Ukuran pastinya tidak diketahui, tetapi antara sepuluh sampai dengan tigapuluh juta skala Richter. Itu memang hanya sindiran tentang ketepatan informasi pascagempa. Tetapi, berita berikut ini bukan sekedar guyonan: pendataan korban gempa masih amburadul karena tidak ada kriteria yang standar. Padahal akurasi informasi itu akan digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Selain akurasi, sebenarnya masih ada atribut informasi penting lainnya yaitu lengkap, relevan, jelas, hemat biaya dan tepat waktu.
Continue reading »

Pola spasial TB di kota Jogja: sebuah proposal

July 8th, 2006

Tuberkulosis (TB) masih merupakan ancaman kesehatan utama di negara berkembang. Indonesia menempati posisi ketiga dalam jumlah kasus setelah India dan China. Setiap tahun ratusan ribu pasien TB ditemukan di berbagai fasilitas kesehatan di Indonesia.
Continue reading »

H5N1 dan naik darah

July 5th, 2006

Ternyata virus H5N1 tidak hanya menyebabkan flu burung. Gara-gara isu penyakit yang disebabkan oleh virus tersebut, puluhan masyarakat Karo naik darah dan melakukan demonstrasi yang tidak lazim dengan meminum darah ayam di depan kantor Gubernur Sumatera Utara pertengahan Juni lalu. Selain itu, mereka juga memberi deadline 3 hari kepada petugas WHO untuk meninggalkan wilayah mereka. Hal itu dilakukan karena masyarakat merasa terancam dengan rencana pemerintah untuk memusnahkan ayam secara terbatas di kabupaten Karo. Mereka sebelumnya sudah sakit hati dengan Menkes yang menduga bahwa sumber penularan berasal dari pupuk.
Continue reading »

- online valtrex order - buy asacol - spy a cell phone - generic levitra -