Selamat buat Tita, Niko dan Dina

February 3rd, 2007


Jumat, 1 Februari kemarin, ketiga makhluk lucu mahasiswa Fakultas Kedokteran UGM angkatan 2003 ujian pendadaran skripsi. Ketiganya mengambil topik yang saling berkaitan satu sama lain di kota Jogja. Tita memilih judul analisis spasial TB Juli Desember 2004, Niko mempresentasikan analisis spasial DBD 2004-2005 sedang Dina menganalisis hasil penyelidikan epidemiologis DBD tahun 2006. Terima kasih kepada Dinkes Kota Jogja (dr. Choirul, mbak Susi dan pak Yoga) yang mengijinkan mereka bertiga memanfaatkan data register TB dan DBD untuk diutak utik. Jika Dina hanya menganalisis data sekunder tersebut, Tita dan Niko melengkapinya dengan data primer melalui pengumpulan koordinat lokasi pasien TB dan DBD. Bagiku, mereka sudah melakukan sesuatu yang luar biasa. Paling tidak, jauh lebih baik dari aku (sebagai salah satu pembimbingnya). Waktu itu aku meneliti perilaku mencari informasi kesehatan secara elektronik pada mahasiswa program jarak jauh di MMR dan KMPK dengan pembimbing pak Coco dan bu Uut. Itupun hanya ditulis dalam bentuk skripsi, sedangkan mereka menulisnya dalam bentuk skripsi dan naskah publikasi. Mereka belajar keras menggunakan Epimap, padahal angkatan mereka termasuk yang “kelewatan” tidak belajar Epi Info. Presentasinyapun meyakinkan, apalagi Tita yang medhok banget jawanya ketika menceritakan rumitnya mengumpulkan data (eh bahasa Indonesianya “nrithik” opo yo Ta…). Ujiannyapun berlangsung greng dan santai, meskipun molor. Pak Hari terlambat karena ada rapat di tempat lain, sehingga harus dimulai dulu. Karena sudah ada jadwal menguji di tempat lain, akupun tidak bisa mengikuti tanya jawab dengan Dina sampai selesai, dan pamit duluan sambil membawa bekal makanan cukup banyak he..he..he..
Continue reading »

SIG di kesehatan masyarakat: tidak hanya untuk P2PL saja

December 10th, 2006

Seminggu yang lalu (3 Desember 2006), saya dan prof Hari Kusnanto mendapatkan undangan istimewa dari Dinkes Sulteng untuk berbicara dalam pertemuan evaluasi SP2TP dan sosialisasi GIS (geographical information system). Adalah mbak Bertin Ayu Wandira, staf Dinkes Sulteng yang juga mahasiswa SIMKES 2005, pemrakarsa acara (sekaligus MC pertemuan he..he..he..) yang ber-repot-repot mengklopkan agenda kami dengan jadwal acara tersbut. Ini adalah kali kedua saya ke Palu. Pada tahun 2003, saya bertemu dengan pak Imam Subekti (sekarang sudah di Depkes, Kuningan), pak Zainal (masih di DHS) serta beberapa teman dari kabupaten maupun dinkes propinsi sendiri. Pak Hari ternyata baru sekali ini menginjakkan kakinya di Palu.
Continue reading »

Pola spasial TB di kota Jogja: sebuah proposal

July 8th, 2006

Tuberkulosis (TB) masih merupakan ancaman kesehatan utama di negara berkembang. Indonesia menempati posisi ketiga dalam jumlah kasus setelah India dan China. Setiap tahun ratusan ribu pasien TB ditemukan di berbagai fasilitas kesehatan di Indonesia.
Continue reading »

Sistem informasi geografis dan pemulihan sistem kesehatan

June 19th, 2006

aduh….. minggu kemarin benar-benar gak produktif. Males banget, mana badan lagi gak gitu sehat. Kemarin dapat pencerahan baru tentang Webgis dari mas Bayu dan mas Trias. Bayu mengatakan bahwa web di Puspics juga dikembangkan menggunakan perangkat open source. Sementara mas Trias mengatakan bahwa Mapserver sudah memiliki kemampuan akses database ke mysql.

Kini saatnya wilayah DIY-Jateng bangkit setelah menjadi berantakan akibat musibah gempa 27 Mei. Fase emergensi yang serba darurat dan miskin koordinasi berganti menjadi tahapan rekonstruksi untuk membangun kembali semua tatatan, termasuk sistem kesehatan. Sistem kesehatan merupakan urusan semua orang sama halnya kesehatan yang merupakan hak asasi semua pribadi. Sistem kesehatan bukan semata-mata mengenai masalah dokter, perawat, puskesmas, sampai ke imunisasi. Continue reading »

Peta flu burung untuk Google Earth

May 17th, 2006

Beritanya sih sudah basi banget kali ya… tapi karena kemarin barusan nulis tentang flu burung dan Indonesia adalah yang paling parah, yah telat gak papa… Declan Butler, seorang jurnalis, pernah menulis di Nature edisi 5 Januari 2006 mengenai peta flu burung yang dapat ditampilkan melalui Google Earth. Peta yang tersedia dalam format kml tersebut (dapat didownload di sini) memuat informasi mengenai setiap lokasi kasus flu burung baik pada manusia maupun pada unggas. Update terbaru dapat diperoleh di website Declan. Dia menggunakan data dari FAO untuk memetakan kasus pada unggas, sedangkan sumber kasus pada manusia diperoleh dari WHO maupun berbagai sumber-sumber lainnya. Di blognya, dia juga membuat rincian proses pembuatan peta tersebut.

Sayangnya, karena keterbatasan sumber data yang tidak memuat koordinat geografik, beberapa kasus akan ditampilkan tidak di lokasi sebenarnya. Hal ini sangat mungkin terjadi karena dia membuat asumsi sentroid untuk wilayah administratif setingkat distrik, apalagi untuk wilayah administratif yang terdiri dari beberapa poligon. Sehingga, tidak usah heran, jika kasus flu burung pada unggas di Lamongan akan terlempar di Laut Jawa. Nah, ini saatnya kita bisa memberikan kontribusi dengan memberikan koordinat geografis yang lebih akurat agar peta tersebut bisa lebih baik lagi. Sebagai contoh, salah satu pengunjung blognya mengirimkan update mengenai informasi yang lebih rinci tentang kasus di Mesir agar si Declan dapat memperbaiki dengan versi terbaru.

Tips: untuk menampilkan di Google Earth, pilih File –> Open kemudian buka file *.kml tersebut. Kalau diarahkan ke Indonesia, Anda akan melihat peta seperti gambar di atas.

Kategori: geografi kesehatan

Medical geography subject baru atau lama dengan kemasan baru?

May 5th, 2006

Kategori: geografi kesehatan

Memang benar kunjungan pada saat yang tepat. Lagi nyiapin artikel pertama tentang GIS, aku juga menyempatkan cari course yang berkaitan. Nemu juga, namanya medical geography. Untungnya kuliahnya juga dalam bahasa Inggris. Setelah kontak Fanny, dia juga OK, ndaftarlah ke kuliah tersebut. Johan juga OK kok. Waktunya memang pas banget. Kuliah sudah dimulai tanggal 3 Mei kemarin di Zernicke Gebouw. Seperti biasa, aku kan tidak care banget dengan yang detil-detil tsb. Jadi sempat nyari-nyari mubeng-mubeng. Eh ternyata aku yang goblog ruang no 119 kok nyarinya 199. Sampai merapi meletus pun gak ketemu….
Siang sebelumnya aku tanya Yessi tentang perkuliahan disini. Dia ngasih tahu Nestor dan ProgressWWW. Dosen di sini memang sudah berkewajiban untuk menggunakan fasilitas elektronik tsb untuk mengupdate materi serta berkomunikasi dengan student. Sebenarnya hampir sama dengan moodle. Di sini pakai Blackboard, program elearning komersial, yah…. sekolah yg punya duit banyak ya wajar.
Setelah mubeng-mubeng, akhirnya ketemu juga tuh ruangan. Fanny juga sudah di sana, lagi nyiapin ppt (tapi bukan asrot yg jelas he.he..he..). Kuliah jam 2, mulainya jam 2.15. jadi dosennya datang duluan. Di tempat kita kuliah jam 2, dosen datangnya jam 2.15. Dia sudah langsung tahu kalau aku anis, karena sudah email2an sblmnya. Kuliah ini sebenarnya merupakan salah satu minor (pilihan) bagi mahasiswa S1, tetapi juga dapat diambil oleh mhs yg sedang mengambil master in population studies. Ada salah satu mahasiswa dari Rwanda yang ikut. Nanti akan ada 8 kali tatap muka, sedangkan ujiannya dengan membuat paper serta ujian tulis. Setelah kuliah, aku diskusi dengan Fannya, kelihatannya aku prefer untuk membuat paper sendiri daripada bergabung dengan yang lain. Semoga nanti bisa jadi paper yang bagus. Mumpung di sini, dimanfaatkan aja ya… nggak…aku lagi mikir-mikir, datanya PODES mau diolah jadi apa ya? tentang private -public, tentang disaster, atau apa ya?
OK tentang kuliah? Tidak terlalu baru sebenarnya, tetapi memberi perspektif lain. Pertama, yang mengajar adalah orang demografi. Fanny sebenarnya lulusan NIHES, Rotterdam dia mengambil epidemiologi. Backgroundnya demografi sih. Kuliah pertama masih menjelaskan tentang apa itu medical geografi.
Sebelum sampai ke John Snow (orang yang satu ini bakal disebut-sebut terus sepanjang jaman kali ya…), dia menjelaskan beberapa konsep, mulai dari health (WHO), disease, sickness, illness, health service provision, epidemiology, epidemic, endemic, pandemic, sampai dengan beda antara spatial dan place. Baru kemudian dia menjelaskan sejarah medical geography yang bermula dari Hippocrates, John Snow, Jacques May. itu era pertama, yang lebih banyak mengkaji sudut pandang geografi untuk penyakit (dan epidemiologi). Gelombang kedua medical geography disebut sebagai health care geography ( di sini aspek accessibility, distribution, inequalities dan inequity, resource allocation) lebih diperhatikan. Sehingga dia bilang bahwa tahun depan mata kuliahnya akan berganti menjadi health geography, menjadikannya lebih luas. Nah gelombang ketiga disebut sebagai new health geography (he..he..sampai kapan itu disebut new, nanti ada post new juga kali ya?) Dia katakan, gelombang ketiga ini dimulai setelah tahun 1990an yang menguatkan pentingnya aspek sociocultural, place dan konteks dalam mengkaji aspek geografis dalam kesehatan. Ini menurutku, karena yg mengajar orang demografi sehingga mengharapkan agar komponen sosial lebih banyak dilibatkan. Dari sisi muatan ilmu, saya kira baik, lebih kualitatif (he..he.. padahal aku selama ini lebih banyak melihat dari aspek kuantitatif terus ya… pakai geoda, apalagi satscan, itu khan kuantitaf banget). Semoga nanti topik berikutnya semakin menarik…Kita ketemu lagi besok Senin (8/5)

Peranan Sistem Informasi Geografis Kesehatan dalam Bencana*

September 13th, 2005

Pendahuluan
Akhir-akhir ini, Indonesia berbagai bencana bertubi-tubi menimpa Indonesia. Sebelum tsunami di Aceh, berbagai bencana alam seperti banjir, longsor, kebakaran hutan, gunung meletus, kekeringan, gempa bumi maupun tsunami juga pernah menimpa beberapa bagian di Indonesia. Selain bencana alam, Indonesia juga langganan dengan kejadian luar biasa seperti demam berdarah, dan akhir-akhir ini, semua orang meributkan tentang polio. Jika menilik definisi bencana (disaster) menurut WHO, kita akan menemukan definisi yang menarik. Bencana dapat didefinisikan sebagai setiap kejadian yang menyebabkan kerusakan, gangguan ekologis, hilangnya nyawa manusia atau memburuknya derajat kesehatan atau pelayanan kesehatan pada skala tertentu yang memerlukan respon dari luar masyarakat atau wilayah yang terkena. Hal ini mengimplikasikan bahwa KLB pun dapat dikateogrikan sebagai suatu bencana. Continue reading »

- online valtrex order - buy asacol - spy a cell phone - generic levitra -