Sepuluh juta skala Richter

July 16th, 2006

Sampai dengan minggu lalu, gempa susulan masih terjadi. Saking seringnya, muncul guyonan orang Jogja dapat memperkirakan kekuatan gempa hanya dengan duduk di kursi saat gempa terjadi. Ukuran pastinya tidak diketahui, tetapi antara sepuluh sampai dengan tigapuluh juta skala Richter. Itu memang hanya sindiran tentang ketepatan informasi pascagempa. Tetapi, berita berikut ini bukan sekedar guyonan: pendataan korban gempa masih amburadul karena tidak ada kriteria yang standar. Padahal akurasi informasi itu akan digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Selain akurasi, sebenarnya masih ada atribut informasi penting lainnya yaitu lengkap, relevan, jelas, hemat biaya dan tepat waktu.
Continue reading »

Payung anti pandemi bagi dunia bisnis

July 4th, 2006

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Sedia payung sebelum hujan. Begitulah nasihat yang sering kita dengar. Intinya sama, kesiapsiagaan menghadapi bencana. Semenjak musibah gempa di DIY-Jateng, istilah disaster preparedness alias kesiapsiagaan bencana menjadi lebih sering didengung-dengungkan. Semua berkomentar, seandainya kita memiliki kesiapsiagaan terhadap bencana gempa, mungkin tidak akan jatuh korban sebanyak itu. Sayangnya, semua bicara preparedness setelah musibah terjadi. Continue reading »

Lumpur panas itu…

June 20th, 2006

Belum lagi perhatian masyarakat lepas dari gempa di Jogja-Jateng ada berita lain terkait dengan bencana. Lumpur panas di Sidoarjo. Berita ini mungkin tenggelam dibanding dengan demam Piala Dunia. Tetapi apakah ini bencana? Bukankah bencana ditandai dengan adanya korban yang meninggal banyak serta terjadi secara mendadak?

Memang ada berbagai pengertian bencana. Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, bencana dipahami berdasarkan apa akibatnya terhadap manusia, tidak hanya dilihat sebagai fenomena geologis atau teknis semata. Pendekatan ini melihat konsekuensinya terhadap kesehatan dan pelayanan kesehatan. Tetapi, pengertian bencana menurut komunitas tertentu bisa berarti bukan bagi kelompok masyarakat lainnya. Continue reading »

Sistem informasi geografis dan pemulihan sistem kesehatan

June 19th, 2006

aduh….. minggu kemarin benar-benar gak produktif. Males banget, mana badan lagi gak gitu sehat. Kemarin dapat pencerahan baru tentang Webgis dari mas Bayu dan mas Trias. Bayu mengatakan bahwa web di Puspics juga dikembangkan menggunakan perangkat open source. Sementara mas Trias mengatakan bahwa Mapserver sudah memiliki kemampuan akses database ke mysql.

Kini saatnya wilayah DIY-Jateng bangkit setelah menjadi berantakan akibat musibah gempa 27 Mei. Fase emergensi yang serba darurat dan miskin koordinasi berganti menjadi tahapan rekonstruksi untuk membangun kembali semua tatatan, termasuk sistem kesehatan. Sistem kesehatan merupakan urusan semua orang sama halnya kesehatan yang merupakan hak asasi semua pribadi. Sistem kesehatan bukan semata-mata mengenai masalah dokter, perawat, puskesmas, sampai ke imunisasi. Continue reading »

Manajemen bencana: dimana ya… dalam kurikulum kedokteran kita?

June 10th, 2006

Gempa di Jogja-Jateng akhir Mei kemarin sekali lagi menghentakkan kesadaran kita bahwa Indonesia adalah negara rawan bencana. Dalam dua tahun belakangan ini, dengan tiga bencana, Aceh, Nias dan terakhir Jogja tidak kurang dari 200 ribu nyawa melayang. Jauh lebih banyak lagi yang cedera, mengalami kesakitan, kehilangan rumah serta mengalamai kesengsaraan psiko-sosial-ekonomis.

Sebagai masalah kesehatan, dari sisi jumlah korban, bencana mungkin dapat disetarakan dengan besarnya masalah karena tuberkulosis, HIV/AIDS, dengue dan malaria. Topik yang sudah sangat familiar bagi mahasiswa kedokteran kita. Lalu bagaimana dengan bencana? Apakah lulusan pendidikan dokter kita sudah dibekali dengan kompetensi yang meyakinkan untuk menangani bencana? Padahal negara kita rawan bencana…… Continue reading »

Hmmm…Bapak kita yang satu ini…..

June 2nd, 2006

Kemarin (1 Juni), Wapres Jusuf Kalla menyarankan bahwa bantuan tenaga medis asing ke Yogyakarta distop saja. Fasilitas dan tenaga medis yang ada sudah cukup. Mengutip pernyataan beliau yang dimuat di Detik.com “lebih baik bantuan untuk rehabilitasi rakyat dan perumahan daripada tenaga medis”. Membaca pertama kali, komentarku dalam hati, “hebat juga Bapak kita yang satu ini, tegas mengambil keputusan, mengalokasikan sumber daya dalam kondisi darurat seperti ini”.

Memang, dalam kasus bencana, penanganan medis darurat sangat-sangat dibutuhkan pada 24 jam pertama. Idealnya, pelayanan medis untuk korban bencana melputi pertolongan pertama untuk menyelamatkan hidup atau immediate life-supporting first aid (LSFA), pertolongan penanganan trauma atau advanced trauma life support (ATLS), bedah resusitasi, analgesia dan anestesi lapangan, teknologi SAR serta perawatan intensif. Penelitian Safar pada gempa di Itali 1980 menyimpulkan bahwa 25 sampai 50% pasien yang terluka dan sekarat dapat diselamatkan jika pertolongan pertama yang tepat dapat diberikan segera. Aku bisa membayangkan, salah satu teman di Puskesmas Imogiri, dengan keterbatasan obat dan peralatan yang ada (bisa dibayangkan puskesmas kita seperti apa), tiba-tiba (mak jegagik bahasa Jawanya) kebanjiran pasien trauma dan sekarat. Akhirnya, dengan pertolongan seadanya ya hanya bisa melihat mereka dijemput satu per satu. Continue reading »

Contoh publikasi tentang mortalitas pasca bencana: mortalitas dan faktor risiko kematian pada pengungsi tsunami di Sri Langka

May 30th, 2006

Kategori: IKM

Nyambung dengan posting sebelumnya. Ada contoh publikasi menarik tentang faktor risiko kematian pada para pengungsi di Sri Langka. Judul artikelnya adalah: Who died as a result of the tsunami? Risk factors of mortality among internally displaced persons in Sri Lanka: a retrospective cohort analysis.Pendekatan ini dapat digunakan sebagai masukan untuk mereka yang akan melakukan penelitian kesehatan masyarakat. UGM rencananya akan mengerahkan mahasiswa dalam bentuk KKN tematik di salah satu desa di Bantul. Jika mendapatkan bimbingan dengan baik, mereka bisa menghasilkan naskah publikasi yang konteksnya sangat layak untuk masuk ke jurnal internasional.

Penelitian ini dipublikasikan di BMC Public Health bulan Maret 2006 yang lalu. Tujuan penelitian adalah untuk menggambarkan mortalitas serta faktor risikonya pada para pengungsi pasca tsunami Desember 2004 di Sri Langka melalui survei dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di 13 kamp pengungsi. Informasi mengenai anggota keluarga sebelum tsunami dicatat dari responden termasuk setiap kematian yang terjadi semenjak kejadian tsunami hingga hari ke-77 sampai 80. Distribusi mortalitas dan faktor risiko dianalisis menggunakan regresi logistik. Metode sampling, survei serta analisis statistiknya silakan dipelajari lebih lanjut. Ada diskusi menarik mengenai keterbatasan penelitian termasuk bias karena populasinya adalah mereka yang berada di kamp pengungsi.

Agenda riset kesehatan masyarakat pasca gempa: mengapa selamat, mengapa tidak?

May 30th, 2006

kategori : IKM

Apa yang harus dilakukan oleh para ahli kesehatan masyarakat pasca bencana? Aku yakin di Jogja sekarang sudah banyak badan internasional, LSM, hingga para pakar sudah turun tangan (istilah kerennya bahu membahu) selama fase tanggap darurat hingga 3 bulan nanti. Mereka pasti sudah memiliki guideline (Depkes sudah punya), WHO apalagi. Mas Doni juga sudah siap dengan instrumen untuk surveilans kam pengungsi. Karena aku sedang jauh dari Jogja, ya sementara hanya bisa sharing knowledge aja. Berikut ini adalah intisari yang aku ambil dari bukunya Eric K Noji “The Public Health Consequences of Disaster”. Aku hanya mengambil bagian rekomendasi riset pada bab Gempa.
-telitilah mekanisme bagaimana orang meninggal maupun cedera (misalnya, komponen bangunan apa yang menyebabkan trauma secara langsung). Informasi ini sangat penting sebagai bagian dari strategi pencegahan yang efektif.
-identifikasi faktor yang menyebabkan korban selamat dari runtuhnya bangunan. Sebagai contoh, hubungan antara kejadian injury dengan desain struktur bangunan, material konstruksi yang digunakan, komponen non struktural, faktor demografis korban dan lingkungan fisik di sekitar reruntuhan. Tentukan lokasi dimana pasien tewas atau terluka untuk mengidentifikasi potensi daerah yang aman serta membuat rekomendasi tentang apa yang harus dilakukan pada saat gempa.
-tetapkan sebab dan waktu perkiraan kematian dari korban yang ditemukan di bawah reruntuhan bersama dengan ahli forensik. Selanjutnya hubungkan antara perkiraan waktu kematian dengan durasi terperangkap. Memahami informasi ini dapat bermanfaat bagi perencanaan upaya penyelamatan dan mengevaluasi sumber daya yang tersedia.
-otopsi sebab pasti kematian, termasuk mereka yg meninggal di jalan raya. Ini untuk membuat rekomendasi jenis material bangunan serta interior kendaraan yang aman saat terjadi gempa.
-evaluasi efektivitas upaya SAR dan penyelamatan medis pasca gempa. Penelitian mengenai hambatan organisasional diperlukan untuk menigkatkan kecepatan respon dalam penyelamatan jiwa terhadap mereka yang terluka parah. Studi epidemiologi juga diperlukan untuk mencari tahu metode pertolongan bagi korban serta memberikan penyelamatan tanpa memberikan kerusakan bagi mereka yang terperangkap di bawah reruntuhan.
-pelajari kebutuhan medis segera bagi orang yang terperangkap di bawah bangunan untuk menentukan intervensi efektif dalam mencegah atau mengelola korban serta meminimalisir disabilitas (mengurangi insidensi infeksi luka dan komplikasi post op)
-tentukan apakah pola trauma dapat digunakan untuk memberikan saran terhadap perubahan komponen struktural dan non struktural bangunan.
-teliti faktor perilaku yang berkaitan dengan kematian dan injury sehingga dapat memberikan saran tindakan terbaik untuk mengurangi kemungkinan kematian atau injury.
-kumpulkan data untuk mempredisiksi tipe injury berkaitan dengan jenis bangunan, kondisi tanah, intensitas gempa serta populasi penduduk (hal ini dapat berguna dalam memprediksi kebutuhan tindakan kesehatan khususnya jumlah suplai dan bantuan tenaga kesehatan)
-apakah ada risiko pelapasan zat toksik pasca gempa?
-identifikasi faktor kultural dan sosialekonomis korban.
-buatlah analisis mengenai daerah berisiko gempa di negara kita baik di rumah maupun di tempat kerja serta biaya untuk memberikan proteksi yang menyeluruh bagi populasi.

Ada yang mau menambahkan?
mau mandi dulu ah….masuk ke kampus lagi

disaster preparedness juga termasuk mengentaskan kemiskinan

May 29th, 2006

Dupuluh tujuh Mei 2006 barangkali akan menjadi tanggal yang paling diingat oleh warga Bantul (dan DIY umumnya) sebagaimana 26 Desember 2004 oleh masyarakat Aceh. Tidak menduga sama sekali bahwa wilayahku akan mengalami gempa sedemikian dahsyatnya. Pengalaman ke Aceh pasca tsunamipun ternyata belum memberikan panduan disaster preparedness yang praktis bagi diriku sendiri. Dengan besarnya korban serta kerusakan infrastruktur yang terjadi di Jogja dan Jateng, kita menjadi diingatkan kembali bahwa bencana dapat menimpa siapa saja, kapan saja, dimana saja, termasuk diri kita sendiri. Gempa ternyata tidak memperhatikan ada tidaknya figur sultan, yang begitu dikagumi dan dihormati oleh masyarakat Jogja sebagai simbol keluhuran budaya. Sama halnya tsunami dan gempa di Aceh tidak peduli bahwa wilayah tersebut memiliki julukan serambi mekah serta daerah dengan penerapan syariah islamiah. Dalam satu kolomnya di Kompas pasca tsunami, Emha ‘menggugat’ Tuhan mengapa tidak memberikan bencana ke wilayah yang dipenuhi koruptor misalnya.

Tanpa harus menggugat Tuhan, mempromosikan waspada terhadap bencana (disaster preparedness) kepada masyarakat seharusnya lebih diperkuat, dan ini membutuhkan upaya yang luar biasa. Dalam berbagai kesempatan, aku pernah menulis bahwa dinas kesehatan perlu memiliki disaster preparedness. Melihat kejadian ini, masyarakatlah yang perlu pertama kali memilikinya (dan untuk hal inipun aku tidak menyadarinya). Waktu ke Aceh, aku nggak bisa membayangkan bahwa kejadian yang sama pun bisa terjadi di Bantul. Ada kata-kata sombong yang tidak terucap…“ah…nggak mungkin..”. Tetapi akhirnya terjadi juga.

Dua minggu yang lalu, berita Merapi disiarkan di CNN dan dikomentari bahwa Indonesia adalah negara dengan 200-an gunung dan sebagian besar aktif. Tetapi, aku juga tidak merasa ngeri dan takut. Seharusnya, aku juga takut, karena aku tidak tahu pasti, apakah rumahku sudah memiliki bangunan tahan gempa, juga gedung kantor tempat aku bekerja. Sebagian besar rumah yang hancur dan luluh lantak di Bantul adalah rumah dengan konstruksi non permanen. Kembali lagi, ini terkait dengan kemiskinan. Anderson menuliskan bahwa 95% kematian terkait dengan bencana terjadi pada 66% penduduk dunia yang hidup di negara-negara miskin. Ada kesenjangan yang cukup besar antar negara kaya dengan miskin dalam hal rasio kematian per bencana. Di negara kaya, rata-rata terdapat 500 kematian setiap bencana sedangkan di negara miskin(dan berkembang) mencapai 3000 kematian setiap bencana. Mereka yang berada di negara berkembang jelas lebih berisiko karena tidak mampu membangun rumah yang tahan gempa, banyak hidup di daerah pesisir yang memiliki risiko tinggi terhadap badai, gempa yang menyusulkan tsunami (syukur tidak terjadi di Bantul), desakan ekonomi sehingga tinggal di perumahan di bawah standar, rawan longsor atau pinggiran kawasan industri dengan limbah berbahaya serta tidak terdidik dengan perilaku dan tindakan penyelamatan saat bencana berlangsung. Sehingga, mengangkat manusia dari jeratan kemiskinan sebenarnya juga mengamankan mereka dari ancaman bencana.

Penyebab bencana dari tahun ke tahun tidak berubah, tetapi korban selalu bertambah. Dalam buku Eric K Noji bencana selalu memerlukan effort yang luar biasa untuk membangun kembali, sebagaimana tertulis dalam definisinya“a disaster is the result of a vast ecological breakdown in the relation between humans and their environment, a serious and suddent event (or slow, as in a drought) on such a scale that the stricken community needs extraordinary efforts to cope with ith, often with outside help or international aid” .

Karena disaster preparedness dimulai dari sendiri, kini aku juga sedang mencari tahu, bagaimana konstruksi bangunan tahan gempa yang terjangkau, sebelum merenovasi rumah. Aku bersyukur, keluargaku tidak menjadi korban, tetapi berduka karena banyak warga yang tidak selamat. Semoga Tuhan mengampuni kita dan memberikan kekuatan menghadapi cobaan.

Peranan Sistem Informasi Geografis Kesehatan dalam Bencana*

September 13th, 2005

Pendahuluan
Akhir-akhir ini, Indonesia berbagai bencana bertubi-tubi menimpa Indonesia. Sebelum tsunami di Aceh, berbagai bencana alam seperti banjir, longsor, kebakaran hutan, gunung meletus, kekeringan, gempa bumi maupun tsunami juga pernah menimpa beberapa bagian di Indonesia. Selain bencana alam, Indonesia juga langganan dengan kejadian luar biasa seperti demam berdarah, dan akhir-akhir ini, semua orang meributkan tentang polio. Jika menilik definisi bencana (disaster) menurut WHO, kita akan menemukan definisi yang menarik. Bencana dapat didefinisikan sebagai setiap kejadian yang menyebabkan kerusakan, gangguan ekologis, hilangnya nyawa manusia atau memburuknya derajat kesehatan atau pelayanan kesehatan pada skala tertentu yang memerlukan respon dari luar masyarakat atau wilayah yang terkena. Hal ini mengimplikasikan bahwa KLB pun dapat dikateogrikan sebagai suatu bencana. Continue reading »

- online valtrex order - buy asacol - spy a cell phone - generic levitra -