Dari Pusdatin ke PDSE
Akhirnya Pusdatin (pusat data dan informasi) depkes berganti baju menjadi PDSE (Pusat Data dan Surveilans Epdeimiologi). Kalau melihat struktur dan kegiatannya, nampaknya tidak hanya sekedar ganti baju, tapi juga ganti pola pikir dan perkakasnya juga. Perkakas yang sudah ketinggalan jaman dimusiumkan aja..demikian juga yang masih berpikir bahwa pusdatin tidak beda dengan jaman waktu bernama Pusdakes (pusat data kesehatan). Kemarin Sabtu (5 Sept 09) saya diundang pak Gito pusdatin untuk berbagai gagasan tentang PDSE (pusdatin yang baru). Acaranya cukup gayeng, karena dimulai dengan sesi mas Andreasta Meliala yang dengan gaya entertainingnya berusaha membongkar pola pikir teman-teman pusdatin mengenai hakikat dan peran lembaga tersebut serta klien yang mereka layani. Karena semua sudah disampaikan mas Andre, saya hanya menyampaikan yang penting-penting saja. Dimulai dengan meneritakan pengalaman pribadi kontak pertama dengan pusdatin waktu masih bernama Pusdakes, berganti nama menjadi Pusdatin dan era saat ini. Nampaknya tahapan tersebut juga mengikuti perkembangan teknologi informasi dari jaman data dan mainframe yang besar, sampai dengan era network saat ini yang memiliki keleluasaan tukar menukar data lebih lega.
Ada beberapa isyu yang saya sampaikan, seperti perubahan dari data menjadi intelijen. Aspek inilah yang menurutku belum banyak digarap di pusat. Hasil olahan informasi dari pusdatin masih belum berbunyi nyaring. Keterkaitan (linkage) data di tingkat pusat pun juga masih bermasalah, meskipun upaya pembenahan terus dilakukan.
Di tingkat bawah, saya menunjukkan lagi pentingnya standarisasi data, dengan studi kasus data spreadsheet DBD yang berbeda-beda antara kabupaten. Demikian juga keterkaitan SIK dengan sektor lain, khususnya pemerintah daerah. Sewaktu di Batam, beberapa staf dinkes juga menyebutkan tentang pentingnya sosialisasi SIKDA kepada DPRD agar mereka ngeh betul mengenai SIKDA serta kebutuhan infrastruktur. Memang, tidak semuanya harus menggunakan infrastruktur yang luas seperti Purworejo atau Wonosobo. Justru disinilah pentingnya evaluasi.
Kembali kepada pertemuan pusdatin tersebut, saya mengusulkan tiga hal, yaitu: konsolidasi unit TI di tingkat pusat. Kedua, melakukan evaluasi sistem yang berbasis paper maupun kertas. Termasuk mengusulkan standar informatika kesehatan yang harus diadopsi.
Uncategorized | Comment (0)Leave a Reply