Tidak sekedar paperless, wireless, filmless….

March 23rd, 2009  Tagged ,

 

Meskipun relatif terlambat daripada sektor lainnya, rumah sakit secara perlahan-lahan akhirnya  mengadopsi teknologi informasi. Alasan pertama berinvestasi teknologi informasi biasanya adalah efisiensi, sehingga jenis aplikasi yang diutamakan biasanya adalah billing systems, inventory maupun fungsi transaksional lainnya. Jika tahapan awal ini berjalan dengan baik, teknologi informasi akan mendapatkan tempat untuk bermain di sektor klinis. Pengembangan sistem informasi klinis merupakan suatu tantangan menarik, tidak hanya bagi para vendor (pengembang sistem informasi) tetapi juga bagi pihak rumah sakit itu sendiri. Sehingga tidaklah heran, bahwa masih sedikit rumah sakit yang memiliki aplikasi rekam medis elektronik. Kalaupun ada, sebagian besar masih berupa data diagnosis pasien, tidak lebih dari itu.

Pada dasarnya rekam medis elektronik adalah penggunaan metode elektronik untuk pengumpulan, penyimpanan, pengolahan serta pengaksesan data pasien di rumah sakit yang tentu saja akan tersimpan dalam suatu sistem manajemen basis data multimedia yang menghimpun berbagai sumber data medis. Seperti kita ketahui, masukan data rekam medis dapat berupa teks (baik yang terstruktur maupun naratif), gambar digital (jika sudah menerapkan radiologi digital), suara (misalnya suara jantung), video maupun yang berupa biosignal seperti rekaman EKG. 

Tantangan 

Dalam berbagai kesempatan, seringkali disebutkan bahwa tantangan utama pengembangan sistem informasi di rumah sakit adalah aspek finansial. Hal ini dibuktikan bahwa di berbagai negara, investasi teknologi informasi di rumah sakit rata-rata adalah 2,5% dari total anggaran mereka. Padahal, di sektor lain, dapat mencapai tiga kali lipat. Faktor kedua adalah aspek legal dan keamanan. Masih banyak pihak yang mencurigai bahwa rekam medis elektronik tidak memiliki payung legalitas yang jelas. Hal ini juga terkait dengan upaya untuk menjamin agar data yang tersimpan dapat melindungi aspek privacy, confidentiality maupun keamanan informasi secara umum. Sebenarnya, teknologi informasi memberikan harapan baru, yaitu teknologi enkripsi maupun berbagai penanda biometrik (sidik jari maupun pemindai retina) yang justru lebih protektif daripada tandatangan biasa. Tantangan berikutnya adalah kesiapan pengguna, dalam hal ini adalah tenaga medis. Pengalaman menunjukkan bahwa salah satu pionir pengembangan sistem pakar (expert system) adalah dunia kedokteran.

Akan tetapi, sejarah menunjukkan bahwa meskipun aplikasi MYCIN (ditemukan pada awal 1970-an oleh Prof. Shortliffe, seorang ahli penyakit dalam dari Stanford University) ternyata tidak banyak diterapkan di dunia medis. Sistem tersebut, yang bertujuan membantu dokter dalam memberikan antibiotik yang tepat sesuai dengan jenis bakterinya, ternyata dianggap lambat, menghambat pekerjaan dokter, dan seakan membodohi dokter. Sistem pakar tersebut dianggap lebih cocok bagi mahasiswa kedokteran atau orang awam yang sama sekali pernah mendapatkan pengetahuan mengenai bagaimana memberikan terapi kepada orang sakit. 

Beberapa hal di atas akan diperparah jika manajemen rumah sakit juga tidak memiliki visi dan tujuan yang jelas mengenai pengembangan sistem informasi rumah sakit. Karena pengelolaan teknologi informasi dianggap bukan sebagai core business di rumah sakit, rumah sakit tidak memiliki strategi pengembangan sistem informasi serta strategi pengembangan teknologi informasinya. Padahal, rumah sakit merupakan salah satu sektor jasa yang memanfaatkan informasi secara ekstensif (information intensive industry). Banyak rumah sakit di luar negeri sudah memiliki Chief Information Officer (CIO) yang khusus mengelola pengembangan sistem /teknologi informasi rumah sakit. Ketidakjelasan rumah sakit dalam pengelolaan teknologi informasi, akan berakibat pada tidak jelasnya reward dan penghargaan kepada pekerja teknologi informasi. Mereka akan menjadi pekerja yang dianggap setara dengan pekerjaan administratif. Sehingga yang dikhawatirkan adalah sektor kesehatan akan dihindari oleh pekerja teknologi informasi yang unggul.

Peluang

Beratnya tantangan di atas tidak berarti tidak serta merta menutup peluang yang ada. Dari sisi pengguna, sebenarnya dokter yang semakin computer literate dengan teknologi informasi juga terus meningkat. Di Kanada, lima puluh persen dokter yang berusia di bawah 35 tahun sudah menggunakan PDA. Mereka, sebagian besar memanfaatkannya untuk membaca referensi obat. Hal ini ditunjang dengan munculnya berbagai situs yang menyediakan e-book dan referensi obat yang dapat diinstall ke PDA. Salah satunya adalah epocrates (htttp://www.epocrates.com) yang menyediakan drug reference gratis untuk palmtop. Lainnya, memanfaatkan PDA untuk penjadwalan. Akan tetapi, baru sebagian kecil yang menggunakannya untuk manajemen pasien. Hal ini terkait dengan masih terbatasnya fasilitas yang user friendly untuk entry data pasien melalui PDA. Selain itu, sistem informasi rumah sakit juga harus menyediakan fasilitas untuk sinkronisasi data dari/ke PDA. Oleh karena itu, saat ini aplikasi yang berkembang mengarah kepada teknologi web yang menjanjikan portabilitas data yang lebih baik. Aplikasi ini juga didukung oleh teknologi wireless yang memungkinkan dokter dapat melakukan entry data di samping tempat tidur pasien secara langsung (computerized physician order entry)

Saat ini, penyedia aplikasi sistem informasi klinik sudah semakin banyak (khususnya di luar negeri). Para vendor tersebut juga berkompetisi untuk menunjukkan keunggulannya masing-masing. Vendor sistem informasi rumah sakit ada yang berangkat dari peranannya sebagai penyedia alat-alat medis (medical devices), ada pula yang berbasis pengalaman sebagai pengembangan sistem. Sehingga, ada yang memiliki keunggulan sebagai penyedia  sistem informasi laboratorium yang sekaligus menyediakan alat pemeriksaan laboratorium. Ada pula vendor yang menawarkan perangkat keras radiologi digital sekaligus dengan software PACS (picture archiving and communication systems) untuk mendukung sistem radiologi tanpa film konvensional (filmless). Kecenderungan pemanfaatan teknologi elektronik ini juga akan berimbas pada konsep paperless  yang ditandai dengan meluruhnya peran kertas (menjadi elektronik) sebagai media perekam medis. Upaya pengembangan sistem informasi klinis ini diharapkan dapat mendongkrak mutu pelayanan (pencegahan kesalahan peresepan obat), produktivitas klinisi (rekam medis dapat diakses secara cepat dan bersama-sama), serta mendorong efisiensi (menghindari permintaan pemeriksaan laboratorium berulang dikarenakan kertas hasil pemeriksaan sebelumnya tercecer).

Bagi rumah sakit dengan anggaran terbatas,  aplikasi yang bersifat open source dapat menjadi alternatif. Salah satu diantaranya adalah VistA yang dikembangkan oleh Departement of Veteran Affairs AS dan tersedia dengan harga US$ 25(dua puluh lima dolar).  Akan tetapi, dibalik peluang tersebut, sebenarnya masih banyak tantangan lain yang harus diselesaikan. Isyu standar pertukaran data, inkompatibilitas (antara alat medis dengan komputer maupun perangkat komunikasi) masih menjadi topik yang belum tuntas. Indonesia pun baru mengadopsi standar diagnosis (ICD), sedangkan standar yang berkaitan aspek informatika kedokteran masih belum diadopsi. Sehingga, penerapan teknologi informasi di rumah sakit memang tidak hanya sekedar jargon paperless, wireless dan filmless. Oleh karena itu, memang benar pendapat salah satu pakar, teknologi informasi di rumah sakit merupakan journey, bukan destination

 

 

 

 

 

 

 

 




6 Responses to “Tidak sekedar paperless, wireless, filmless….”

  1.   Ags Mutamakin on March 24, 2009 2:33 am

    Jika dilihat diujung piramid “Business Map”,
    Keuntungan = Optimalisasi Pendapatan + Peningkatan Efisiensi

    Sekedar berbagi pengalaman, implementasi sistem informasi RS di Indonesia tampaknya baru sebatas mengoptimalisasi pendapatan (e.g. memastikan seluruh transaksi tercatat). Untuk ke arah peningkatan efisiensi, rasanya masih perlu waktu.

  2.   Ags Mutamakin on March 24, 2009 2:46 am

    Jika Keuntungan = Optimalisasi Pendapatan + Peningkatan Efisiensi,

    Implementasi sistem informasi RS di Indonesia tampaknya baru sebatas mengoptimalisasi pendapatan (e.g. memastikan seluruh transaksi tercatat). Untuk ke arah peningkatan efisiensi, rasanya koq masih susah ya.

  3.   anisfuad on March 24, 2009 2:48 pm

    betul mas Agus, saya kelupaan menyebutkan tentang efektivitas dalam mengoptimalisasi pendapatan. Beberapa penelitian mengenai billing system baru berupaya ke sana, belum sampai ke efisiensi. Tetapi, memang ini memerlukan waktu. Pengalaman di negara menunjukkan bahwa jika rumah sakit menggunakan EMR yang komplit jelas lebih efisien dan hemat dibandingkan dengan yang separo-separo.
    “…Rasanya masih susah ya” tapi belum sampai pada less yang keempat to? alias hopeless….

  4.   Syaiful Fatah on April 4, 2009 11:14 am

    Menarik sekali ulasannya pak Anis..
    Barangkali pihak manajemen RS yang mengatakan bahwa core businessnya bukan pada pengelolaan teknologi informasi perlu disegarkan kembali. Sebab kalo mau dilakukan pendekatan Balace scorecard (BSC) untuk mengukur keberhasilan dan performancy RS maka teknologi informasi adalah komponen yang berperan penting didalamnya. Kalau dulu kita sering dengar bahwa tingkat keberhasilan atau performancy perusahaan hanya diukur dari aspek financial dan market share saja (walaupun sekarang masih banyak yang pakai) sejatinya hampir sebagian besar rumah sakit juga berorientasi kesitu. Padahal tidak seratus persen benar untuk menggambarkan keberhasilan, toh rumah sakit ujung2nya juga sebagai lahan bisnis juga. Mungkin dengan merujuk pada pendekatan yang dilakukan pada Balanced Scorecard dimana menghubungkan strategi yang ada dalam suatu organisasi/perusahaan, mulai dari visi, critical success factor dan pengukuran performansi keberhasilan RS dapat lebih menghargai peran teknologi informasi. Sedangkan kalao kita lihat empat perspektif BSC: Customer, Internal Business, Innovation and Learning, dan Financial Perspective hampir semuanya adalah produk akhir dari berjalannya sistem informasi yang pada akhirnya berefek pada financial juga.

  5.   jason on April 7, 2009 1:41 am

    Setuju Pak… it’s journey..

  6.   Gugus on August 18, 2009 9:58 pm

    setuju dengan yang diutarakan Ags Mutamakin, mayoritas RS menggunakan teknologi informasi untuk mempermudah billing, belum mencoba ke arah pengembangan yang lain.

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind

*
Mohon masukkan kata kunci untuk membuktikan bahwa anda bukan spam-script, ketikkan kata kunci pada gambar dibawah. klik pada gambar untuk mendengarkan audio
Click to hear an audio file of the anti-spam word