Berkunjung ke Ngawi

June 16th, 2008

Salah satu bagian yang menyenangkan dari pekerjaan saya adalah travelling. Kamis (12/8/2008) kemarin, ditemani Arif dan Hafidz, kami berjalan-jalan ke Ngawi. Seharusnya, kami berangkat dari kampus jam 5 pagi. Tetapi, saya terlambat menjemput mereka (kebiasaan he..he..he..), sehingga baru berangkat dari kampus jam 5.30. Kunjungan ini sudah saya rencanakan satu minggu yang lalu terinspirasi dari popularitas Dinkes Ngawi dalam menerapkan sistem informasi puskesmas. Saya pernah ketemu dengan dr. Pudjo (Kadinkes Ngawi) beserta drg. Endah (kepala Puskesmas Mantingan yang juga bu Pudjo) tahun 2005 di Padang di sebuah workshop tentang SIMPUS yang diselenggarakan oleh Binkesmas Depkes (pak Kuning Triadi cs). Saya juga pernah bertemu dengan bu Sri (sekretariat Dinkes) dalam suatu acara berkaitan dengan sistem informasi kesehatan yang diselenggarakan oleh teman-teman dari Dinkes Prov Jawa Timur (mas Hakky cs). Namun, baru kemarin itu saya baru berkesempatan melihat secara langsung dan berdiskusi dengan pimpinan dinas kesehatan, pengguna SIMPUS (operator, bidan) maupun tim software. Kata bu Endah, peserta acara di Padang sudah ke Ngawi, kecuali saya. Kunjungan ini bisa terwujud atas jasa bu Paulina, alumni KMPK UGM yang dulu pernah meneliti tentang aksesibilitas pelayanan KIA di kabupaten Ngawi.

Sebenarnya ini adalah kunjungan kedua. Sebelumnya, bersama Harmi saya sempat ke Ngawi untuk mengikuti acara Binkesmas tentang SIMPUS juga. Namun, waktu itu hanya mengikuti acara seminarnya saja, tidak sempat berkunjung ke lapangan. Perjalanan Jogja-Ngawi normalnya memakan waktu antara 3-4 jam. Jam 9 lebih sedikit kami sudah sampai di kantor Dinkes Ngawi.

Sesampai di Ngawi, kami bertemu dengan bu Sri, bu Gunarti, mas Pur didampingi bu Paulina sambil nunggu pak Pudjo. Sebenarnya saya ke Ngawi untuk belajar tentang bagaimana cara Dinkes Ngawi dalam mengintegrasikan program KIA dari sektor swasta dan pemerintah. Hal ini berkaitan dengan penelitian saya di kabupaten Sleman tentang integrasi sistem surveilans KIA. Memang Sleman sangat berbeda dengan Ngawi dalam hal pertumbuhan sektor swasta. Dengan jumlah penduduk yang relatif tidak jauh berbeda (900 ribuan), kabupaten Sleman unggul dalam jumlah bidan praktek swasta, SPOG, rumah sakit bersalin, balai pengobatan, serta rumah sakit (baik swasta maupun pemerintah). Jumlah puskesmas hampir sama.

Diskusi di ruang rapat semakin rame setelah pak Pudjo bergabung. Saya menyimpulkan (bisa keliru) bahwa Dinkes Ngawi dapat mengintegrasikan data program KIA dari sektor swasta karena beberapa hal:
-Sejarah penempatan SPOG di puskesmas PONED (dan menjadi PONED Plus) sebelum beliau akhirnya ditempatkan di rumah sakit meskipun status kepegawaiannya tetap sebagai staf dinkes (bukan rumah sakit). Di Kab Ngawi hanya ada 2 SPOG. Dulu ada 3, yg dua di rumah sakit daerah yang 1 nyantol di Dinkes.
-Kebijakan peningkatan akses layanan KIA (pasien diharapkan minimal 1 kali kontrol ke SPOG) serta kemitraan dengan kader (insentif bagi kader/posyandu dalam menemukan sampai dengan memonitor ibu hamil hingga bersalin Rp 10.000 per bumil)
-Kemitraan dengan bidan praktek swasta melalui IBI serta dikembangkannya bidan sub koordinator yang mengawasi 2 puskesmas.

Hal tersebut juga ditegaskan oleh bidan sub koordinator yang waktu itu juga sedang ada pertemuan di Dinkes. Kemudian, kami mampir ke ruang server. Mas Pur sempat menunjukkan ke saya aplikasi SMS Gateway sumbangan dari program CSR Indosat. Wah, jika setiap operator memiliki program CSR untuk dinkes saya kira akan banyak dinkes yang terbantu. Wong, mhs SIMKES sekarang juga ada yang sedang meneliti tentang pengembangan sistem surveilans berbasis SMS. Mas Pur juga sempat menunjukkan aplikasi SIMPUS Ngawi serta kemampuannya untuk mencari data individual. Sebenarnya, data individu di Dinkes merupakan isu yang cukup menarik karena terkait dengan masalah privacy dan confidentiality. Sayang, saya tidak sempat tanya secara rinci tentang jaringan wireless yang menghubungkan seluruh puskesmas di Ngawi.

Siangnya, saya ke Puskesmas Purba dan Puskesmas Mantingan. Di Puskesmas Purba kami sempat diskusi dengan mas Marno, salah satu anggota tim software SIMPUS. Dia menunjukkan langkah untuk mencari data secara rinci. Penggunaan metode pencarian tertentu (query) sangat tergantung kepada kebutuhan puskesmas. Kami akhirnya, mampir di Puskesmas Mantingan dalam perjalanan kembali ke JOgja. Di Puskesmas yang memiliki 20-an komputer ini, bu Endah masih menanti kami. Para bidan pun juga belum pulang (terima kasih semuanya) menunggu kedatangan kami. Yang saya kagumi adalah komitmen tenaga kesehatan dalam menggunakan aplikasi tersebut. Salah satu bidan mengatakan, “Dulu, kami takut menggunakan komputer. Takut rusak. Kemudian, kami takut jika tidak menggunakan komputer karena dimarahi bu Endah. Sekarang, kami sudah tidak takut, tapi sudah menjadi kebutuhan, karena data saya ada di komputer.” Luar biasa….

Hari berikutnya, kebetulan ada tamu dari GTZ dan peserta pelatihan manajemen data SIMPUS NAD di labkom Radioputro. Setelah diskusi tentang kondisi SIMPUS NAD, sebelum saya mulai dengan analisis data yang ada, saya sampaikan kepada para peserta bahwa GTZ dan Malteser mungkin mampu membeli software SIMPUS Ngawi serta menyediakan perangkat keras ke puskesmas di pantai timur NAD. Tetapi, yang juga harus dibeli adalah leadership kepala dinas dan kepala puskesmas, keberadaan tim software yang terus menerus memperbaiki software, komitmen pengguna sistem serta kemampuan pengguna dalam mengekstraksi data serta menganalisisnya sesuai dengan kebutuhan.