Desa siaga: pemberdayaan, sistem informasi dan kelembagaan

February 11th, 2007

Satu jam yang menyenangkan membicarakan desa siaga. Di ruang Simkes yang sempit, Sabtu kemarin kami mengundang mbak Budi Wahyuni, dr. Kristiani, drg. Senik Windyati, mas Arie Sujito dan pak Haryanto untuk sekedar ngobrol tentang desa siaga (istilah lain untuk rapat koordinasi seminar dan menyamakan persepsi). Bu Kris pertama kali menyampaikan bahwa tujuan program ini adalah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mendeteksi dan mengatasi masalah kesehatan desa secara mandiri. Lontaran tajam pertama dari mbak Budi yang mencurigai bahwa program desa membawa pesan implisit bahwa pemerintah akan melepaskan (alias “ngeculke”) tanggung jawab finansial pemerintah dalam mewujudkan kesehatan kepada masyarakat. Memang tidak dipungkiri bahwa sehat tidak hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi masyarakat sendiri juga berperan. Sehingga, pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu kunci. Menurut mas Arie, pemberdayaan bukanlah sulapan. Memberdayakan masyarakat berarti memberikan informasi kesehatan yang tepat dan lengkap kepada masyarakat, agar mereka mengerti tentang baik-buruknya alternatif yang tersedia serta bertanggung jawab terhadap pilihannya.

Dengan demikian, pemberdayaan masyarakat juga terkait dengan kompleksitas pengambilan keputusan. Pilihan bersalin kepada dukun atau bidan diserahkan kepada masyarakat. Masalahnya adalah sampai sekarang (atau sampai kapanpun?) terjadi asimetri informasi kesehatan. Menjadi tugas pemerintah untuk mengikis asimetri tersebut termasuk dengan menyediakan infrastruktur. Melalui program desa siaga, pemerintah menargetkan membangun pos kesehatan desa yang diharapkan dapat dikawal oleh seorang bidan dan 2 kader desa. Saya tidak hafal target Depkes, tapi bisa dicari di Google kok. Pos kesehatan desa semestinya juga bukan bangunan fisik yang hanya buka jam 8-1 siang, tetapi semestinya 24 jam. Pos kesehatan desa juga harus memiliki dukungan fasilitas informasi dan komunikasi yang memadai untuk menjalankan fungsi deteksi masalah kesehatan secara dini serta merujuk masalah kesehatan secara cepat ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi. Berbagai metode komunikasi (dari manual dan elektronik), informasi yang terinci mengenai berbagai risiko di wilayah desa serta potensi (ambulans desa, petugas yang kompeten) harus dimiliki oleh pos kesehatan desa. Menurut saya, tidak berarti bahwa pos kesehatan ada harus ada di setiap desa jika masyarakat dalam wilayah tersebut sudah mampu mengatasi masalah kesehatan secara mandiri. Klinik atau tenaga kesehatan yang melayani pasien dari daerah kumuh di perkotaan dapat difungsikan sebagai pos kesehatan desa juga. Pendekatan birokrasi justru jangan sampai menjadikan pos kesehatan desa tersebut malah menjadi penghambat alur informasi.

Menurut mas Arie, kata kuncinya adalah pelembagaan pos kesehatan desa. Semenjak diundangkannya UU no 32 tahun, desa berhak mendapatkan dan mengelola Alokasi Dana Desa (ADD). Agar pos kesehatan desa benar-benar dimiliki oleh masyarakat desa tersebut, mengapa tidak mengadvokasi agar pemerintah kabupaten melakukan inovasi pemanfaatan ADD untuk mendukung program desa siaga. Di tingkat kabupaten, jargon yang muncul adalah kerjasama lintas sektoral, tetapi implementasi di lapangan bersifat spasial (dibatasi wilayah administratif desa). Saya jadi teringat keluhan teman saya, yang mengatakan bahwa lurah merupakan singkatan dari “ngelu ing sirah”. Bertanggung jawab ke bupati, tetapi semua dinas (termasuk dinkes) dapat memerintah “sakdheg saknyet”.


19 Responses to “Desa siaga: pemberdayaan, sistem informasi dan kelembagaan”

  1. Evyhttp://senyumsehat.wordpress.com/ on February 11, 2007 8:00 am

    Wah desa siaga smart idea..kok spt proyek health aids ya…pak? Lha apa bukan dr dl sudah ada posyandu, pelatihan dukun beranak dsb…? Kalau yg ini programnya apa saja Pak Anis? Trus siapa yang membayar kalau jaga warungnya 24 jam sehari? Kalau ada emergency dilatih apakah dilatih CPR atau BTLS? Kalau perlu konsul pake teleconverence? Apa bukannya program ini karena pemerintah udah ga kuat bayar PTT? Skype itu program seperti apa pak, saya lihat jawaban pak Anis di blog cak Moki? Waduh aku udah kebanyakan nanya, maaf ya pak maklum…ga paham campur curious…

  2. anis on February 11, 2007 8:54 am

    sekarang jadi program nasional, Bu. Idenya bu Menkes. Posyandu khan hanya buka sekali sebulan. Ada cerita lagi tentang persalinan pendamping. Konon, di beberapa tempat, jika ibu bersalin di bidan ada insentif 120 ribu. Tetapi, yg terjadi mereka tetap bersalin di dukun, trus di”inguk” (apa ya Indonesianya, diinjen eh diintip?) oleh bidan. Trus dicatat sebagai persalinan nakes. Trus insentifnya dibagi, 40 ribu ke bidan dan 80 ribu ke dukun. Tentang topik pelatihan utk bidan dan dukun saya tidak tahu detailnya. Cak Moki lebih pengalaman tentang ini. Nah, seharusnya dinkes lebih banyak kerjasama dengan desa agar poskesdes itu memang dimiliki oleh desa, termasuk memberi insentif buat bidan dan kader di poskesdes tersebut. Poskesdes khan sebenarnya merupakan perluasan fungsi dari polindes. Coba aja masuk ke skype.com, trus didownload, trus diinstal. Hampir seperti YM, tapi kalau buat nelpon ke telpon biasa lebih jernih dan lebih murah khususnya jika internasional. Tapi, kalau buat nelpon biasa harus beli kredit dulu. Antar skyper kalau buat VOIP juga bagus kok

  3. cakmokihttp://cakmoki86.wordpress.com on February 11, 2007 3:34 pm

    Koq sudah seru.
    Saya pernah sparring partner dengan Bu kris setahun lalu. Kami diskusi pengembangan Rawat Inap, sayang hanya beberapa menit.
    Tentang program Kesga depkes, tahun lalu berubah lagi Pak.
    Isinya sih sama, judulnya berubah. Camat dan Lurah-lurah sering mengeluh dengan kesehatan saking banyaknya program.
    Jadi betul saja “ngelu ing sirah”. Kalo saya biasa pendekatan personal, ngunjungi rumahnya, baik perlu atau tidak perlu, jadi enak. Kalo ts kebanyakan jaga jarak, gak mau mbantu kalo Camat dan lurah repot, jadinya mereka juga kurang peduli, dan otomatis ngomel.
    Kebetulan saya kenal semua camat di kota kami, jadi sering ngobrol terbuka. Mungkin jajaran kesehatan perlu juga pro-aktif dalam hal advokasi di Kelurahan, misalnya bikinkan data visual tanpa diminta, bikinkan cakupan dalam bentuk presentasi dll. Kalau ngomong doang, atau penyuluhan tok, halah tambah ngelu sirahe pak Lurah.
    Dulu saya nggak pernah sulit koq.

    Kembali ke desa siaga, saya pikir memang sudah waktunya modernisasi, bukan sekedar nginguk terus bikin pantograf, terus bagi duit.
    Tapi ya itu tadi, perlu saling bantu.
    Banyak PR ya :D

    Skype-nya bikin tutorial dong.
    Ya kan Mbak Evy …*golek bolo*

  4. maman on June 2, 2007 3:19 am

    pada perinsipnya desa siga itu adalahpemberdayaan masyarakat, program orang ceras yang memerlukan kerja keras dan kerja ikhlas. bagaimana tidak, karena dengan sistem peberdayaan yang partial, sesaat dan tidak berkesinambungan hanya akan menghabiskan tenagadan dana saja. desa siaga harus lahidari kebutuhan masyarakat, partisipasi mayarakat harus yang brsifat sukarela.
    bagaimana degan kelembagaan Poskesdes? kalau tujuan untuk meningkatkan akses masyarakat desa terhadap pelayanan kesehatan saya seuju, cuma mungkn bagaimana jika kaitkan dngan UU praktekkedokteran, bagaimana pengelolaan obat di desa tentunya perlu pertimbangan yang matang jangan samai ada aturan yang berbenturan.

    Bagaimana peluang meningkatkaakses informasi kesehata untuk masyarakat desa? dalam bidang ini aya tertarik dan memiliki keinginan
    bagaimana meningkatkan akses masyarakat akan informasi kesehatan. dalam waktu dekat akan kami wujudkan dengan pemanfaatan eknologi inormasi modern dan tradisional yang sederhana dan bisadipahami oleh masyarakat, semoga dapat terapai…

  5. cindhe on July 4, 2007 11:07 pm

    i want joint

  6. HARIS. N on September 6, 2007 8:09 am

    saya punya pengalaman menjadi fasilitator desa siaga pada tahun 2006 lalu, tepatnya dikabupaten merangin provinsi jambi. dengan berbekal pelatihan fasilitator desa siaga tingkat provinsi jambi. konon menurut saya pelatihan tersebut tidak banyak memberi keterampilan saya untuk menjadi fasilitator tingkat kabupaten. waktu itu depkes memang sedang menyusun segala bentuk petunjuk teknis tentang desa siaga. sehingga satu satunya yang menjadi pedoman waktu itu adalah kepmenkes 465. tidak ada petunjuk operasional tidak membuat kami patah arang, dikabupaten merangin. berbekal kamampuan sendiri kami coba dengan segenap kemampuan kami yang akhirnya menurut kami cukup berhasil dan mendapat pujian temen-teman di provinsi. ( Haris.N)

  7. prihantama,s.km. on September 13, 2007 6:58 am

    desa siaga meupakan suatu program yang memiliki esensi sangat baik, yaitu pemberdayaan masyarakat (community empowerment). masyarakat dituntut menjaga kesehatan mereka sendiri. namun ada satu hal yang mengganjal benak saya, mengapa sama sekali tidak melibatkan tenaga Sarjana Kesehatan MAsyarakat. bukan berarti saya minta dilibatkan. namun, dengan empat upaya pokok yang dijalankan, selayaknya program ini melibatkan S.KM.
    apapun hasilnya tetap kita dukung demi terwujudnya derajat kesehatan yang optimal bagi bngsa Indonesia. saya ucpkan selamat bagi bidan, perawat dan kader kesehatan dari masyarakat atas keterlibatannya.

    kepada siapapun yang membaca tulisan saya semoga tetap berpikir positif dan mendukung pogram desa siaga.
    bravo paradigma sehat, semoga indonesia menjadi semakin sehat

  8. ugm4aceh on October 31, 2007 11:20 am

    sepertinya program yang sangat menarik…

    kalo teman2 ada yang memiliki bahan2 yang lengkap mengenai desa siaga, bisa kah saya minta dikirimkan ke email saya
    jumadi82@gmail.com

    terimakasih banyak

  9. Iyas on November 11, 2007 7:35 am

    tinggal kita lihat apakah akan jalan dengan baik ato tidak
    ayo dukung desa siaga ….

  10. iyas on November 21, 2007 8:27 am

    maaf dok out of topic, izin konsultasi mengenai web baru ku mohon saran dan kritikannya serta jangan lupa dok submit web dokter ke tempat saya.
    terima kasih

  11. Mita on December 18, 2007 8:54 am

    Lage nyari bahan Desa siaga ini loh!!!!makanya buka situs ni..
    hehehe
    ada bahan lage ga??

  12. Marsa on December 19, 2007 6:37 am

    Sygnya lum di smua desa prog.Desa Siaga brjln

  13. Marsa on December 19, 2007 6:55 am

    bag. promkes kudu kerja keras. Informasi slh 1 sarana jitu dlm pmberdayaan masy. mndri

  14. Marsa on December 19, 2007 7:02 am

    Sy se7 skli dg sdr.Prihantama ^_^
    (it’s too late, commentnya hehehe)

  15. Marsa ://blognyamarsa.wordpress.com on December 19, 2007 7:09 am

    Sy se7 skli dg sdr.Prihantama ^_^
    (it’s too late, commentnya hehehe

  16. cokroaminoto on January 20, 2008 8:05 am

    Ngaturaken kasugengan pak anis. Hampir setahun, saya kehilangan kontak. Seperti ayam kehilangan induk. Baru setelah browsing, saya temukan web ini.
    Artikelnya informatif, layak sebagai bahan belajar. Terutama di daerah yang jauh akses teknologinya. Salam

  17. phy on February 25, 2009 5:54 pm

    salam kenal buat pak AniS…
    bagaimana perkembangan desa siaga sekarang pak?
    berdasar teori, bentuk peran serta masyarakat dalam desa siaga itu seperti apa sih?
    oy buat temen-temen yang tahu informasi terbaru tentang desa siagaentah itu dalam taraf nasional ataupun dalam lingkup daerah tempat tinggal,,tolonng bagai info ke emailQ yach.
    windphy@ymail.com
    terima kasih buat perhatiananya.

  18. anisfuad on February 26, 2009 10:36 am

    salam kenal aja. Yg tahu perkembangannya tentu saja Depkes ya…Tahun 2009 khan akhir masa jabatan bu Fadhilah Supari (jika tidak diperpanjang lagi). Mestinya mereka memiliki catatannya.

  19. umi anni on March 30, 2009 12:27 am

    pak anis saya kader mo tanya bagaimana kalo tempat saperti kelurahan (kami di pusat kota kecil situbondo) yang tidak memiliki polindes dan fasilitas2 pelayanan kesehatan umum (pemerintah)-kita lebih bnyak praktek dokter dan bidan swasta-akan memulai bentuk desa siaga. bila tidak ada sk BUPATI padahal tim pendamping desa siaga bekerja berdasar sk bupati juga. menurut pak anis mustahil tidak kalau poskesdes-desa siaga berjalan langgeng? apa tidak buka poskesdes hari ini lalu besok tutup? :)

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind


4 × = twelve

- online valtrex order - buy asacol - spy a cell phone - generic levitra -