Desa siaga: pemberdayaan, sistem informasi dan kelembagaan

February 11th, 2007

Satu jam yang menyenangkan membicarakan desa siaga. Di ruang Simkes yang sempit, Sabtu kemarin kami mengundang mbak Budi Wahyuni, dr. Kristiani, drg. Senik Windyati, mas Arie Sujito dan pak Haryanto untuk sekedar ngobrol tentang desa siaga (istilah lain untuk rapat koordinasi seminar dan menyamakan persepsi). Bu Kris pertama kali menyampaikan bahwa tujuan program ini adalah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mendeteksi dan mengatasi masalah kesehatan desa secara mandiri. Lontaran tajam pertama dari mbak Budi yang mencurigai bahwa program desa membawa pesan implisit bahwa pemerintah akan melepaskan (alias “ngeculke”) tanggung jawab finansial pemerintah dalam mewujudkan kesehatan kepada masyarakat. Memang tidak dipungkiri bahwa sehat tidak hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi masyarakat sendiri juga berperan. Sehingga, pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu kunci. Menurut mas Arie, pemberdayaan bukanlah sulapan. Memberdayakan masyarakat berarti memberikan informasi kesehatan yang tepat dan lengkap kepada masyarakat, agar mereka mengerti tentang baik-buruknya alternatif yang tersedia serta bertanggung jawab terhadap pilihannya.
Continue reading »

Melawat di Malaysia menghadiri eAsia

February 10th, 2007

Senin sampai Jumat (5-9 Februari) kemarin main ke negeri tetangga, Malaysia untuk menghadiri seminar eAsia. Saya beruntung mendapatkan undangan untuk mengikuti acara tersebut atas jasa Dr. HM Goh, sekretaris Asosiasi Informatika Kedokteran Malaysia. Pihak panitia menghubungi HM untuk menyusun program acara ehealth satu bulan yang lalu. Sebenarnya, dalam acara yang disusunnya juga terdapat nama Prof. Jack Li, presiden APAMI saat ini yang berasal dari Taiwan, Klaus D Veil, Chair of HL7 Healthcare Standards(Australia), Datuk Dr. Teoh Siang Chin, President Malaysia Medical Association serta Dr. Alvin Marcello Director, National Telehealth Centre, dari Philipina. Tetapi sayang, beliau-beliau gagal hadir.
Continue reading »

catatan tanggung tentang seminar ehealth

February 8th, 2007

Sore ini, seminar tiga hari tentang E-health di Putrajaya Convention Centre, Kuala Lumpur berakhir. Secara keseluruhan seminar ini menarik. Berikut beberapa catatan yang sayang jika terbuang begitu saja:
-Kepentingan pengguna adalah segalanya saat mengembangkan inovasi TIK untuk pelayanan kesehatan. E-health sebisa mungkin mendorong pencapaian keakuratan sasaran tembak.
-Mendorong penggunaan perspektif lintas budaya untuk mengatasi tantangan dan berbagai masalah terkait dengan implementasi e-health
-Perlu dibentuk koordinator regional untuk standarisasi yang terkait dengan e-health (dari terminologi sampai ke peralatan). Rekomendasi ini sebenarnya memperkuat jejaring APAMI WG-2 serta keinginan untuk memperluas SNOMED CT agar dapat menampung nilai dan budaya timur.
-Salah satu kunci penguatan kapasitas (capacity building), potensi, prospek dan keterbatasan TIK perlu dikenalkan dalam kurikulum pendidikan kesehatan (kedokteran, keperawatan, kesehatan masyarakat dll). Dokumen dari KKI sudah menekankan hal tersebut. Tinggal menunggu implementasi dari fakultas.
-Perlu mempublikasikan pelatihan-pelatihan yang terkait dengan ehealth. Kami, di simkes sudah membuat beberapa jadwal dan rencana pelatihan. Jika ada saran, masukan dan kritik, terbuka lho….
-Selalu, aspek legal dari rekam kesehatan elektronik tetap harus diperhatikan
-Blogs merupakan salah satu media potensial untuk komunikasi kesehatan

aduh mau nambahin lagi ngantuk banget…. (nyambung lagi kalau sudah pulang ke rumah ah…). Juga pengin cerita sedikit tentang putrajaya, kebablasan naik kereta, mahalnya taksi hotel, blanja buku yang gagal, belajar dari para presentator profesional, pengalaman jadi chairman of the session, networking……

Selamat buat Tita, Niko dan Dina

February 3rd, 2007


Jumat, 1 Februari kemarin, ketiga makhluk lucu mahasiswa Fakultas Kedokteran UGM angkatan 2003 ujian pendadaran skripsi. Ketiganya mengambil topik yang saling berkaitan satu sama lain di kota Jogja. Tita memilih judul analisis spasial TB Juli Desember 2004, Niko mempresentasikan analisis spasial DBD 2004-2005 sedang Dina menganalisis hasil penyelidikan epidemiologis DBD tahun 2006. Terima kasih kepada Dinkes Kota Jogja (dr. Choirul, mbak Susi dan pak Yoga) yang mengijinkan mereka bertiga memanfaatkan data register TB dan DBD untuk diutak utik. Jika Dina hanya menganalisis data sekunder tersebut, Tita dan Niko melengkapinya dengan data primer melalui pengumpulan koordinat lokasi pasien TB dan DBD. Bagiku, mereka sudah melakukan sesuatu yang luar biasa. Paling tidak, jauh lebih baik dari aku (sebagai salah satu pembimbingnya). Waktu itu aku meneliti perilaku mencari informasi kesehatan secara elektronik pada mahasiswa program jarak jauh di MMR dan KMPK dengan pembimbing pak Coco dan bu Uut. Itupun hanya ditulis dalam bentuk skripsi, sedangkan mereka menulisnya dalam bentuk skripsi dan naskah publikasi. Mereka belajar keras menggunakan Epimap, padahal angkatan mereka termasuk yang “kelewatan” tidak belajar Epi Info. Presentasinyapun meyakinkan, apalagi Tita yang medhok banget jawanya ketika menceritakan rumitnya mengumpulkan data (eh bahasa Indonesianya “nrithik” opo yo Ta…). Ujiannyapun berlangsung greng dan santai, meskipun molor. Pak Hari terlambat karena ada rapat di tempat lain, sehingga harus dimulai dulu. Karena sudah ada jadwal menguji di tempat lain, akupun tidak bisa mengikuti tanya jawab dengan Dina sampai selesai, dan pamit duluan sambil membawa bekal makanan cukup banyak he..he..he..
Continue reading »

- online valtrex order - buy asacol - spy a cell phone - generic levitra -