Sepuluh juta skala Richter

July 16th, 2006

Sampai dengan minggu lalu, gempa susulan masih terjadi. Saking seringnya, muncul guyonan orang Jogja dapat memperkirakan kekuatan gempa hanya dengan duduk di kursi saat gempa terjadi. Ukuran pastinya tidak diketahui, tetapi antara sepuluh sampai dengan tigapuluh juta skala Richter. Itu memang hanya sindiran tentang ketepatan informasi pascagempa. Tetapi, berita berikut ini bukan sekedar guyonan: pendataan korban gempa masih amburadul karena tidak ada kriteria yang standar. Padahal akurasi informasi itu akan digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Selain akurasi, sebenarnya masih ada atribut informasi penting lainnya yaitu lengkap, relevan, jelas, hemat biaya dan tepat waktu.
Continue reading »

Pola spasial TB di kota Jogja: sebuah proposal

July 8th, 2006

Tuberkulosis (TB) masih merupakan ancaman kesehatan utama di negara berkembang. Indonesia menempati posisi ketiga dalam jumlah kasus setelah India dan China. Setiap tahun ratusan ribu pasien TB ditemukan di berbagai fasilitas kesehatan di Indonesia.
Continue reading »

H5N1 dan naik darah

July 5th, 2006

Ternyata virus H5N1 tidak hanya menyebabkan flu burung. Gara-gara isu penyakit yang disebabkan oleh virus tersebut, puluhan masyarakat Karo naik darah dan melakukan demonstrasi yang tidak lazim dengan meminum darah ayam di depan kantor Gubernur Sumatera Utara pertengahan Juni lalu. Selain itu, mereka juga memberi deadline 3 hari kepada petugas WHO untuk meninggalkan wilayah mereka. Hal itu dilakukan karena masyarakat merasa terancam dengan rencana pemerintah untuk memusnahkan ayam secara terbatas di kabupaten Karo. Mereka sebelumnya sudah sakit hati dengan Menkes yang menduga bahwa sumber penularan berasal dari pupuk.
Continue reading »

Payung anti pandemi bagi dunia bisnis

July 4th, 2006

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Sedia payung sebelum hujan. Begitulah nasihat yang sering kita dengar. Intinya sama, kesiapsiagaan menghadapi bencana. Semenjak musibah gempa di DIY-Jateng, istilah disaster preparedness alias kesiapsiagaan bencana menjadi lebih sering didengung-dengungkan. Semua berkomentar, seandainya kita memiliki kesiapsiagaan terhadap bencana gempa, mungkin tidak akan jatuh korban sebanyak itu. Sayangnya, semua bicara preparedness setelah musibah terjadi. Continue reading »

Google Health: fitur Google untuk pencari informasi kesehatan

July 3rd, 2006

Kategori: informatika kedokteran

Google tidak henti-hentinya membuat inovasi. Setelah meluncurkan Google Spreadsheet, saat ini Google sedang menguji calon produk terbarunya yaitu Google Health. Sebagaimana telah dibahas oleh beberapa weblog, fitur terbaru ini memang dimaksudkan bagi pengguna Internet agar lebih mudah mencari informasi kesehatan.

Melalui fitur ini, setiap kali kita memasukkan istilah kesehatan, Google akan akan menambahkan beberapa kategori untuk memfilter hasil pencarian. Kategori filter yang sudah tersedia meliputi terapi (Treatment), gejala (Symptoms), tes/diagnosis (Test/diagnosis), sebab/faktor risiko(Cause/risk factors), untuk pasien(For patients), untuk profesional kesehatan (For health professionals), dari otoritas kesehatan(From medical authorities) dan kedokteran alternatif (Alternatif medicine). Meskipun masih digodog di laboratorium, fitur ini sudah dapat dicoba di http://64.233.167.99/.

Dalam beberapa weblog dibahas, fitur Google Health merupakan variasi dari Google Coop. Yang menarik, pada akhir tahun kemarin, Dean Giustini, seorang pustakawan di Kanada, pernah menulis di jurnal kedokteran terkemuka British Medical Journal mengusulkan agar Google menyediakan aplikasi untuk memfasilitasi pencarian informasi kesehatan. Dia menyebutnya sebagai Google Medicine.

Untuk pengguna biasa
Pertanyaannya adalah, apakah fitur ini akan mampu memenuhi kebutuhan pengguna Internet terhadap informasi kesehatan? Jika pertanyaan ini diajukan kepada mereka yang berbahasa Inggris (dan khususnya di AS) jawabannya diharapkan positif. Di Amerika Serika, dengan pengguna Internet hampir mencapai 100 juta, separuhnya menggunakan Internet untuk mencari informasi kesehatan. Aktivitas online ini merupakan urutan ketiga setelah menggunakan email dan mencari produk atau jasa untuk dibeli secara online. Pertanyaan kedua, apakah link yang disediakan oleh Google Health menyajikan informasi yang benar (menurut ilmu pengetahuan kedokteran) dan dapat dipercaya? Seperti diketahui, tidak sedikit situs di Internet yang menyajikan informasi kesehatan yang diragukan kebenarannya, bahkan menyesatkan. Penjelasan Google mengenai kriteria filterisasi serta mutu informasi yang terkandung di dalamnya tentu sangat diharapkan.

Bagi pengguna Internet di Indonesia, yang jumlahnya masih terbatas, apalagi tidak english literate, nampaknya prospeknya tidak secerah itu. Apalagi situs kesehatan berbahasa Indonesia masih terlalu sedikit. Ketika baru-baru ini Menhan Juwono Sudarsono membuat blog dan menulisnya dalam bahasa Inggris, beberapa pengunjungnya berkomentar agar dibuat dalam dua bahasa.

Mungkin, suatu saat fasilitas ini akan digabungkan dengan Google translate agar memudahkan pencarian lintas bahasa. Sehingga, jangan coba-coba deh memasukkan batuk atau pusing, dijamin Google tidak akan mengenalinya sebagai istilah kesehatan.

Untuk profesional kesehatan
Google Health juga memberikan fitur khusus bagi para profesional kesehatan. Jika pada filter pencarian kita klik untuk profesional kesehatan, akan muncul filter baru yaitu panduan penatalaksanaan (practice guideline), paparan untuk pasien (patient handout), pendidikan berkelanjutan dan uji klinis (clinical trial). Ini memang menyerupai filterisasi pada database kedokteran/kesehatan online terkemuka, Medline (http://www.pubmed.gov).

Namun, Google Health masih terlalu sederhana dibandingkan dengan Medline. Sebagai contoh, Google Health tidak mengenal MeSH (Medical Subject Heading). MeSH adalah kata kunci bagi berbagai istilah kesehatan yang berbeda tetapi sebenarnya sama. Dengan menggunakan Medline, profesional kesehatan dapat mencari semua abstrak yang membahas tentang serangan jantung baik yang ditulis menggunakan istilah heart attack, myocardial infarction atau cardiac arrrest asalkan menggunakan MeSH myocardial infarction. Sehingga, meskipun fasilitas ini mungkin juga akan digunakan oleh profesional kesehatan, tetapi sebagai panduan terapi, mereka masih lebih mempercayai jurnal daripada materi yang dimuat di situs yang tidak melalui review. Dalam hal ini, Google Scholar mungkin lebih membantu.

Meskipun tidak seistimewa fitur lain (seperti Google Maps), secara umum fitur ini layak dicoba. Selamat berhidup sehat bersama Google Health.

- online valtrex order - buy asacol - spy a cell phone - generic levitra -