Info kursus: kesiapsiagaan dan respon kedaruratan rumah sakit

June 22nd, 2006

Asian Institute of Technology (AIT)Thailand, melalui salah satu lembaganya yaitu Asian Disaster Preparedness Center (ADPC) akan menyelenggarakan International Course on Hospital Emergency Preparedness and Response. Kegiatan tersebut akan diselenggarakan pada 18-22 September 2006 di Bangkok.

Peserta yang diharapkan adalah staf/manajer/administrator rumah sakit yang bertanggung jawab dalam perencanaan kedaruratan rumah sakit atau kedaruratan dengan jumlah korban besar.Melalui kursus ini, peserta diharapkan mampu:
1. menjelaskan peran fasilitas pelayanan kesehatan dalam manajemen bencana.
2. menerapkan metode penilaian kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan.
3. mensimulasikan insidensi korban masal yang memerlukan peran dan tanggung jawab setiap komponen dalam Hospital Emergency Incident Command System (HEICS).
4. mendiskusikan kebutuhan medik dasar untuk manajemen insidensi korban masal.
5. menerapkan konsep pelayanan medik untuk situasi kedaruratan khusus.
6. menyiapkan outline rencana kesiapsiagaan bencana bagi fasilitas pelayanan kesehatan termasuk untuk fase respon dan pemulihan.

Materi yang diberikan meliputi:
1. Disaster Risk Management Concepts
2. Seismic, Fire & Flood Hazards
3. Structural & Non Structural Components of Hospitals
4. Functional Collapse of Hospitals
5. Emergency Department Concepts & Operation
6. Emergency Medical Service System (EMS): Pre Hospital and Hospital Phase
7. Multiple Casualty Incident & Triage
8. Hospital Emergency Incident Command System (HEICS)
9. Advance Medical Post (AMP)
10. Principles of Medical Care Management in Disasters
11. Public Health Issues
a. Surveillance
b. Psychosocial Consequences of Disasters
c. Management of Dead Bodies in Disasters
12. Return to Normal Health Operations
13. Chemical, Biological Radiological and Mass Gathering
14. Hospital Disaster Preparedness Plan & the Planning Process
15. Hospital Evacuation
16. Resources & Information
a. Public Relations
b. Media
c. VIP
d. Relatives
17. Disaster Drills and Exercise
NEW TOPICS:
Pandemic Preparedness
Resilient Healthcare Facilities
BEST PRACTICES:
National Disaster Medical System (NDMS)
Continuity of Operation (COOP)

Biaya yang kursus 1.500 US $, sudah termasuk CD, handout, tas dan konsumsi (di luar akomodasi).

Menurutku sih, kursus semacam ini penting diikuti. Ini bisa jadi pengalaman penting untuk kesiapsiagaan rumah sakit Indonesia ke depan. Bagi fakultas kedokteran, materi kursus ini juga penting untuk menyiapkan kompetensi manajemen bencana yang kata mbak Mora juga belum teradopsi dengan baik di kurikulum PBL FK UGM. Siapa mau ikut?

Keterangan lebih lanjut silakan download brosurnya di sini.

Lumpur panas itu…

June 20th, 2006

Belum lagi perhatian masyarakat lepas dari gempa di Jogja-Jateng ada berita lain terkait dengan bencana. Lumpur panas di Sidoarjo. Berita ini mungkin tenggelam dibanding dengan demam Piala Dunia. Tetapi apakah ini bencana? Bukankah bencana ditandai dengan adanya korban yang meninggal banyak serta terjadi secara mendadak?

Memang ada berbagai pengertian bencana. Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, bencana dipahami berdasarkan apa akibatnya terhadap manusia, tidak hanya dilihat sebagai fenomena geologis atau teknis semata. Pendekatan ini melihat konsekuensinya terhadap kesehatan dan pelayanan kesehatan. Tetapi, pengertian bencana menurut komunitas tertentu bisa berarti bukan bagi kelompok masyarakat lainnya. Continue reading »

Sistem informasi geografis dan pemulihan sistem kesehatan

June 19th, 2006

aduh….. minggu kemarin benar-benar gak produktif. Males banget, mana badan lagi gak gitu sehat. Kemarin dapat pencerahan baru tentang Webgis dari mas Bayu dan mas Trias. Bayu mengatakan bahwa web di Puspics juga dikembangkan menggunakan perangkat open source. Sementara mas Trias mengatakan bahwa Mapserver sudah memiliki kemampuan akses database ke mysql.

Kini saatnya wilayah DIY-Jateng bangkit setelah menjadi berantakan akibat musibah gempa 27 Mei. Fase emergensi yang serba darurat dan miskin koordinasi berganti menjadi tahapan rekonstruksi untuk membangun kembali semua tatatan, termasuk sistem kesehatan. Sistem kesehatan merupakan urusan semua orang sama halnya kesehatan yang merupakan hak asasi semua pribadi. Sistem kesehatan bukan semata-mata mengenai masalah dokter, perawat, puskesmas, sampai ke imunisasi. Continue reading »

Web-GIS dan gempa Jogja-Jateng

June 11th, 2006

Barusan aku posting tentang WebGIS di milist dosenUGM. Demikian….

Biasanya orang menyebut web-GIS jika itu memang suatu aplikasi sistem informasi geografis yang ditampilkan melalui protokol Internet. Biasanya orang menggunakan aplikasi GIS standalone spt ArcView, MapInfo (komersial) atau Epimap (gratis, populer di kesehatan). Meskipun berbasis Internet, aplikasi GISnya masih mengikuti kaidah standar geografis misalnya skala ataupun posisi geografis.

Sebagaimana kita ketahui ada tiga website terkait GIS yang dapat diakses di Internet. Semuanya (jika saya tidak keliru) merupakan kontribusi teman-teman di UGM.
-PUSPICS (http://puspics.ugm.ac.id/yogya.phtml)
Web ini mungkin dibuat menggunakan aplikasi komersial ArcIMS (atau yang lain, mohon dikoreksi). Data spasial sangat lengkap mulai dari jalan, batas administratif sampai dengan data terkait bencana seperti lokasi pengungsi, status kerusakan dan kebutuhan korban.
-WebGIS Geodesi (http://202.169.224.77/gempa/Publish_13-30/)
Saat saya menulis ini, data yang tersedia di sini tidak selengkap PUSPICS. Jika browser Anda belum terinstall dengan plug-in SVG viewer harus instalasi terlebih dahulu.
-Help Jogja (http://helpjogja.net/data_desa/peta.php)
Saya kira dibuat menggunakan PHP dan serta link image. Nah, kalau yang ini paling cepat diakses. Tetapi, data geografisnya tidak lengkap, hanya batas administratif sampai tingkat desa. Saya tidak tahu apakah bisa disebut sebagai web-GIS. Keterangan geografis pendukung seperti jalan, maupun koordinat lokasi tertentu belum ada. Tetapi, saya kira maksudnya memang menjadikan aplikasi cepat diakses serta mempermudah proses update sesuai kondisi terakhir di lapangan.

Di Internet, kita juga dapat memperoleh layer kml(http://jaga.gc.cs.cmu.edu/rapid/200605-indonesia-quake/pub/indonesia-overlays-netlink.kml) untuk Google Earth yang menampilkan foto satelit daerah gempa. Jika Bapak/Ibu sudah punya Google Earth (dapat didownload free dari earth.google.com) kita dapat melihat tampilan dari udara yang lebih jelas mengenai beberapa wilaya Bantul serta asumsi kerusakan. Mengakses gambar foto satelit ini jauh lebih cepat daripada melalui website PUSPICS (saya di Groningen, mungkin berbeda dengan di Jogja).

Nah, terkait dengan isyu pengembangan web-GIS utk bencana, saya kira tidak hanya berkaitan dengan aspek pasca bencana tetapi juga untuk pra bencananya juga. Saya merasakan data spasial lebih mudah diakses setelah bencana. Sama halnya waktu di Aceh dulu. Itu malah lebih parah lagi, karena 1 bulan setelah tsunami di UN pun masih menggunakan peta spasial sebelum pemekaran menjadi 21 kabupaten. Barusan saya membaca di milist, AU telah selesai melakukan pemotretan udara. Untuk dapat memanfaatkan data spasial tersebut harus melalui security clearance dulu di ITWILHAN, begitu katanya. Saya kira, aspek spatial data sharing ini yang juga harus diperbaiki lagi. Di beberapa negara maju, data spatial dapat diperoleh secara gratis khususnya untuk riset dan pendidikan. Kalau data spatial lebih mudah diakses, pengolahan data berbasis GIS akan semakin banyak dilakukan, apalagi sekarang software GIS yang gratis juga banyak, sehingga moga-moga publikasi juga lebih banyak (jadi ingat kalo di MEDLINE publikasi tentang kesehatan terkait tsunami di Aceh lebih banyak ditulis oleh orang asing lho..)

Isyu kedua saya kira berkaitan dengan kecepatan akses, tampilan data dan integrasi dengan data tabular. Contoh website di atas masih GIS banget, kecuali helpjogja.net. Menurut saya, ini juga harus diikuti dengan integrasi dengan data non spasial spt surveilans penyakit, jumlah pengungsi setiap kamp, foto kerusakan (bukan foto udara lho). Tampilan yang bersifat tematik ini mungkin akan banyak membantu proses pengambilan keputusan. Berarti kerjasama dengan orang teknis di sektor masing-masing ya… Ini juga termasuk pengalaman kesulitan kami saat membantu Dinkes prop NAD sewaktu pasca tsunami dulu. Kami pernah membuatkan website peta kerusakan fasilitas kesehatan setelah melakukan assessment fasilitas kesehatan di selurun NAD (http://map.depkes.go.id), menggunakan Mapserver, aplikasi free yg dapat didownload di Internet. Meskipun aplikasi ini relatif lebih cepa diakses, tetapi belum dapat mengintegrasikan dengan peta tematik seperti jumlah penduduk per kabupaten, data penyakit dlsb.

Nah yang ketiga saya kira terkait dengan updating data. Penggunaan Mapserver, seperti yang telah kami lakukan di ACeh, belum memungkinkan user untuk mengupdate data secara langsung. Tampilan peta masih berasal dari data spasial (shapefile), belum menggunakan database. Konon, Mapserver yang baru sudah dapat mengombinasikan dengan database mysql secara langsung. Selain itu, penggunaan aplikasi berbasis PHP selain Mapserver mungkin bisa dilakukan untuk sekaligus mengupdate tampilan peta tematik.

tambahan (13 juni)
link terkait
++Sistem informasi geografis kesehatan untuk manajemen bencana
++geografi kesehatan
++peta flu burung untuk google earth

Manajemen bencana: dimana ya… dalam kurikulum kedokteran kita?

June 10th, 2006

Gempa di Jogja-Jateng akhir Mei kemarin sekali lagi menghentakkan kesadaran kita bahwa Indonesia adalah negara rawan bencana. Dalam dua tahun belakangan ini, dengan tiga bencana, Aceh, Nias dan terakhir Jogja tidak kurang dari 200 ribu nyawa melayang. Jauh lebih banyak lagi yang cedera, mengalami kesakitan, kehilangan rumah serta mengalamai kesengsaraan psiko-sosial-ekonomis.

Sebagai masalah kesehatan, dari sisi jumlah korban, bencana mungkin dapat disetarakan dengan besarnya masalah karena tuberkulosis, HIV/AIDS, dengue dan malaria. Topik yang sudah sangat familiar bagi mahasiswa kedokteran kita. Lalu bagaimana dengan bencana? Apakah lulusan pendidikan dokter kita sudah dibekali dengan kompetensi yang meyakinkan untuk menangani bencana? Padahal negara kita rawan bencana…… Continue reading »

Thanks blog..

June 8th, 2006

Alhamdulillah, setelah punya blog aku merasa lebih lancar menulis. Selain sebagai katarsis, menulis di blog juga dapat dipakai untuk membuat draf tulisan. Tulisan sebelumnya memang sebenarnya bermaksud untuk mengomentari pernyataan pak Jusuf Kalla. Dengan ramuan yang berbeda, tulisan tersebut sekarang terbit di Kompas (Tenaga Medis Asing Pascabencana). Jadi ingat lagunya Reza Pertama…... Dulu pernah menulis untuk Medika (Informatika Kedokteran dalam Pendidikan Dokter) tetapi bukan jenis tulisan aktual. Dimuatnya tulisan tersebut menjadikanku harus belajar lagi tentang tulis menulis. Redaksi banyak memberikan koreksi berupa penggantian kata, pemotongan kalimat maupun menghilangkannya. OK teruskan usahamu kawan..

Hmmm…Bapak kita yang satu ini…..

June 2nd, 2006

Kemarin (1 Juni), Wapres Jusuf Kalla menyarankan bahwa bantuan tenaga medis asing ke Yogyakarta distop saja. Fasilitas dan tenaga medis yang ada sudah cukup. Mengutip pernyataan beliau yang dimuat di Detik.com “lebih baik bantuan untuk rehabilitasi rakyat dan perumahan daripada tenaga medis”. Membaca pertama kali, komentarku dalam hati, “hebat juga Bapak kita yang satu ini, tegas mengambil keputusan, mengalokasikan sumber daya dalam kondisi darurat seperti ini”.

Memang, dalam kasus bencana, penanganan medis darurat sangat-sangat dibutuhkan pada 24 jam pertama. Idealnya, pelayanan medis untuk korban bencana melputi pertolongan pertama untuk menyelamatkan hidup atau immediate life-supporting first aid (LSFA), pertolongan penanganan trauma atau advanced trauma life support (ATLS), bedah resusitasi, analgesia dan anestesi lapangan, teknologi SAR serta perawatan intensif. Penelitian Safar pada gempa di Itali 1980 menyimpulkan bahwa 25 sampai 50% pasien yang terluka dan sekarat dapat diselamatkan jika pertolongan pertama yang tepat dapat diberikan segera. Aku bisa membayangkan, salah satu teman di Puskesmas Imogiri, dengan keterbatasan obat dan peralatan yang ada (bisa dibayangkan puskesmas kita seperti apa), tiba-tiba (mak jegagik bahasa Jawanya) kebanjiran pasien trauma dan sekarat. Akhirnya, dengan pertolongan seadanya ya hanya bisa melihat mereka dijemput satu per satu. Continue reading »

Aksi kesehatan masyarakat pasca gempa

June 1st, 2006

Sudah mulai Senin kemarin teman-teman di IKM FK UGM turun langsung ke lapangan. Aku udah gak tahan pengin ikut. Tapi, ya apa boleh buat karena harus tinggal di sini. Sementara paling hanya bisa memberikan saran dan komentar dan menyebarluaskan. Ada timnya pak Hari dan pak Coco yang mensupport informasi, pak Hari Pur dan mas Doni utk CDC, pak Lanto dan pak Agas untuk logistik serta mas Andre untuk medical mobile team. Teman-teman di SIMKES kemarin juga turun melakukan mapping. Dalam newsletter, dituliskan bahwa Peter Green dari CDC sudah ke Jogja diantar Peter Pachner dan Gita dari WHO.
Website sementara mereka masih ada di sini. Katanya, nanti akan ganti.

Website mengenai aksi kesehatan masyarakat menurut saya merupakan hal yang penting dan segera tersedia. Mengutip posting sebelumnya, secara umum, informasi yang dibutuhkan pada waktu penanganan bencana adalah: (1) wilayah serta lokasi geografis bencana dan perkiraan populasi, (2)status jalur transportasi dan sisem komunikasi, (3)ketersediaan air bersih, bahan makanan, fasilitas sanitasi dan tempat hunian, (4)jumlah korban, (5)kerusakan, kondisi pelayanan, ketersediaan obat-obatan, peralatan medis serta tenaga di fasilitas kesehatan, (6)lokasi dan jumlah penduduk yang menjadi pengungsi dan (7) estimasi jumlah yang mennggal dan hilang. Pada tahap awal, tindakan kemanusiaan dan pengumpulan informasi dilakukan secara simultan. Pengumpulan data harus dilakukan secara cepat untuk menentukan tindakan prioritas yang harus dilakukan oleh manajemen bencana.

- online valtrex order - buy asacol - spy a cell phone - generic levitra -