Tembakau: Berbahaya Dalam Bentuk dan Samaran Apapun

May 30th, 2006

Sehubungan dengan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2006 yang jatuh pada tanggal 31 Mei 2006, maka kami, penulis blog yang peduli dengan masalah ini, bermaksud untuk memperingatkan kita semua akan bahaya tembakau:

1. Memperingatkan kita semua bahwa tembakau BERBAHAYA DALAM BENTUK APAPUN. Rokok, rokok pipa, bidi, kretek, rokok beraroma cengkeh, snus, snuff, rokok tanpa asap, cerutu…semuanya berbahaya.

2. Memperingatkan kita semua bahwa tembakau dalam jenis, nama dan rasa apapun sama bahayanya. Tembakau BERBAHAYA DALAM SAMARAN APAPUN. Mild, light, low tar, full flavor, fruit flavored, chocolate flavored, natural, additive-free, organic cigarette, PREPS (Potentially Reduced-Exposure Products), harm-reduced… semuanya berbahaya. Label-label tersebut TIDAK menunjukkan bahwa produk-produk yang dimaksud lebih aman dibandingkan produk lain tanpa label-label tersebut.

3. Menuntut Pemerintah Republik Indonesia untuk sesegera mungkin meratifikasi WHO Framework Convention on Tobacco Control (WHO FCTC) demi kesehatan penerus bangsa. Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia yang belum menandatangani perjanjian Internasional ini.

Internet, 31 Mei 2006

Tertanda,

anis

links:
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2006: Call for Action
World No Tobacco Day 2006

Contoh publikasi tentang mortalitas pasca bencana: mortalitas dan faktor risiko kematian pada pengungsi tsunami di Sri Langka

May 30th, 2006

Kategori: IKM

Nyambung dengan posting sebelumnya. Ada contoh publikasi menarik tentang faktor risiko kematian pada para pengungsi di Sri Langka. Judul artikelnya adalah: Who died as a result of the tsunami? Risk factors of mortality among internally displaced persons in Sri Lanka: a retrospective cohort analysis.Pendekatan ini dapat digunakan sebagai masukan untuk mereka yang akan melakukan penelitian kesehatan masyarakat. UGM rencananya akan mengerahkan mahasiswa dalam bentuk KKN tematik di salah satu desa di Bantul. Jika mendapatkan bimbingan dengan baik, mereka bisa menghasilkan naskah publikasi yang konteksnya sangat layak untuk masuk ke jurnal internasional.

Penelitian ini dipublikasikan di BMC Public Health bulan Maret 2006 yang lalu. Tujuan penelitian adalah untuk menggambarkan mortalitas serta faktor risikonya pada para pengungsi pasca tsunami Desember 2004 di Sri Langka melalui survei dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di 13 kamp pengungsi. Informasi mengenai anggota keluarga sebelum tsunami dicatat dari responden termasuk setiap kematian yang terjadi semenjak kejadian tsunami hingga hari ke-77 sampai 80. Distribusi mortalitas dan faktor risiko dianalisis menggunakan regresi logistik. Metode sampling, survei serta analisis statistiknya silakan dipelajari lebih lanjut. Ada diskusi menarik mengenai keterbatasan penelitian termasuk bias karena populasinya adalah mereka yang berada di kamp pengungsi.

Agenda riset kesehatan masyarakat pasca gempa: mengapa selamat, mengapa tidak?

May 30th, 2006

kategori : IKM

Apa yang harus dilakukan oleh para ahli kesehatan masyarakat pasca bencana? Aku yakin di Jogja sekarang sudah banyak badan internasional, LSM, hingga para pakar sudah turun tangan (istilah kerennya bahu membahu) selama fase tanggap darurat hingga 3 bulan nanti. Mereka pasti sudah memiliki guideline (Depkes sudah punya), WHO apalagi. Mas Doni juga sudah siap dengan instrumen untuk surveilans kam pengungsi. Karena aku sedang jauh dari Jogja, ya sementara hanya bisa sharing knowledge aja. Berikut ini adalah intisari yang aku ambil dari bukunya Eric K Noji “The Public Health Consequences of Disaster”. Aku hanya mengambil bagian rekomendasi riset pada bab Gempa.
-telitilah mekanisme bagaimana orang meninggal maupun cedera (misalnya, komponen bangunan apa yang menyebabkan trauma secara langsung). Informasi ini sangat penting sebagai bagian dari strategi pencegahan yang efektif.
-identifikasi faktor yang menyebabkan korban selamat dari runtuhnya bangunan. Sebagai contoh, hubungan antara kejadian injury dengan desain struktur bangunan, material konstruksi yang digunakan, komponen non struktural, faktor demografis korban dan lingkungan fisik di sekitar reruntuhan. Tentukan lokasi dimana pasien tewas atau terluka untuk mengidentifikasi potensi daerah yang aman serta membuat rekomendasi tentang apa yang harus dilakukan pada saat gempa.
-tetapkan sebab dan waktu perkiraan kematian dari korban yang ditemukan di bawah reruntuhan bersama dengan ahli forensik. Selanjutnya hubungkan antara perkiraan waktu kematian dengan durasi terperangkap. Memahami informasi ini dapat bermanfaat bagi perencanaan upaya penyelamatan dan mengevaluasi sumber daya yang tersedia.
-otopsi sebab pasti kematian, termasuk mereka yg meninggal di jalan raya. Ini untuk membuat rekomendasi jenis material bangunan serta interior kendaraan yang aman saat terjadi gempa.
-evaluasi efektivitas upaya SAR dan penyelamatan medis pasca gempa. Penelitian mengenai hambatan organisasional diperlukan untuk menigkatkan kecepatan respon dalam penyelamatan jiwa terhadap mereka yang terluka parah. Studi epidemiologi juga diperlukan untuk mencari tahu metode pertolongan bagi korban serta memberikan penyelamatan tanpa memberikan kerusakan bagi mereka yang terperangkap di bawah reruntuhan.
-pelajari kebutuhan medis segera bagi orang yang terperangkap di bawah bangunan untuk menentukan intervensi efektif dalam mencegah atau mengelola korban serta meminimalisir disabilitas (mengurangi insidensi infeksi luka dan komplikasi post op)
-tentukan apakah pola trauma dapat digunakan untuk memberikan saran terhadap perubahan komponen struktural dan non struktural bangunan.
-teliti faktor perilaku yang berkaitan dengan kematian dan injury sehingga dapat memberikan saran tindakan terbaik untuk mengurangi kemungkinan kematian atau injury.
-kumpulkan data untuk mempredisiksi tipe injury berkaitan dengan jenis bangunan, kondisi tanah, intensitas gempa serta populasi penduduk (hal ini dapat berguna dalam memprediksi kebutuhan tindakan kesehatan khususnya jumlah suplai dan bantuan tenaga kesehatan)
-apakah ada risiko pelapasan zat toksik pasca gempa?
-identifikasi faktor kultural dan sosialekonomis korban.
-buatlah analisis mengenai daerah berisiko gempa di negara kita baik di rumah maupun di tempat kerja serta biaya untuk memberikan proteksi yang menyeluruh bagi populasi.

Ada yang mau menambahkan?
mau mandi dulu ah….masuk ke kampus lagi

disaster preparedness juga termasuk mengentaskan kemiskinan

May 29th, 2006

Dupuluh tujuh Mei 2006 barangkali akan menjadi tanggal yang paling diingat oleh warga Bantul (dan DIY umumnya) sebagaimana 26 Desember 2004 oleh masyarakat Aceh. Tidak menduga sama sekali bahwa wilayahku akan mengalami gempa sedemikian dahsyatnya. Pengalaman ke Aceh pasca tsunamipun ternyata belum memberikan panduan disaster preparedness yang praktis bagi diriku sendiri. Dengan besarnya korban serta kerusakan infrastruktur yang terjadi di Jogja dan Jateng, kita menjadi diingatkan kembali bahwa bencana dapat menimpa siapa saja, kapan saja, dimana saja, termasuk diri kita sendiri. Gempa ternyata tidak memperhatikan ada tidaknya figur sultan, yang begitu dikagumi dan dihormati oleh masyarakat Jogja sebagai simbol keluhuran budaya. Sama halnya tsunami dan gempa di Aceh tidak peduli bahwa wilayah tersebut memiliki julukan serambi mekah serta daerah dengan penerapan syariah islamiah. Dalam satu kolomnya di Kompas pasca tsunami, Emha ‘menggugat’ Tuhan mengapa tidak memberikan bencana ke wilayah yang dipenuhi koruptor misalnya.

Tanpa harus menggugat Tuhan, mempromosikan waspada terhadap bencana (disaster preparedness) kepada masyarakat seharusnya lebih diperkuat, dan ini membutuhkan upaya yang luar biasa. Dalam berbagai kesempatan, aku pernah menulis bahwa dinas kesehatan perlu memiliki disaster preparedness. Melihat kejadian ini, masyarakatlah yang perlu pertama kali memilikinya (dan untuk hal inipun aku tidak menyadarinya). Waktu ke Aceh, aku nggak bisa membayangkan bahwa kejadian yang sama pun bisa terjadi di Bantul. Ada kata-kata sombong yang tidak terucap…“ah…nggak mungkin..”. Tetapi akhirnya terjadi juga.

Dua minggu yang lalu, berita Merapi disiarkan di CNN dan dikomentari bahwa Indonesia adalah negara dengan 200-an gunung dan sebagian besar aktif. Tetapi, aku juga tidak merasa ngeri dan takut. Seharusnya, aku juga takut, karena aku tidak tahu pasti, apakah rumahku sudah memiliki bangunan tahan gempa, juga gedung kantor tempat aku bekerja. Sebagian besar rumah yang hancur dan luluh lantak di Bantul adalah rumah dengan konstruksi non permanen. Kembali lagi, ini terkait dengan kemiskinan. Anderson menuliskan bahwa 95% kematian terkait dengan bencana terjadi pada 66% penduduk dunia yang hidup di negara-negara miskin. Ada kesenjangan yang cukup besar antar negara kaya dengan miskin dalam hal rasio kematian per bencana. Di negara kaya, rata-rata terdapat 500 kematian setiap bencana sedangkan di negara miskin(dan berkembang) mencapai 3000 kematian setiap bencana. Mereka yang berada di negara berkembang jelas lebih berisiko karena tidak mampu membangun rumah yang tahan gempa, banyak hidup di daerah pesisir yang memiliki risiko tinggi terhadap badai, gempa yang menyusulkan tsunami (syukur tidak terjadi di Bantul), desakan ekonomi sehingga tinggal di perumahan di bawah standar, rawan longsor atau pinggiran kawasan industri dengan limbah berbahaya serta tidak terdidik dengan perilaku dan tindakan penyelamatan saat bencana berlangsung. Sehingga, mengangkat manusia dari jeratan kemiskinan sebenarnya juga mengamankan mereka dari ancaman bencana.

Penyebab bencana dari tahun ke tahun tidak berubah, tetapi korban selalu bertambah. Dalam buku Eric K Noji bencana selalu memerlukan effort yang luar biasa untuk membangun kembali, sebagaimana tertulis dalam definisinya“a disaster is the result of a vast ecological breakdown in the relation between humans and their environment, a serious and suddent event (or slow, as in a drought) on such a scale that the stricken community needs extraordinary efforts to cope with ith, often with outside help or international aid” .

Karena disaster preparedness dimulai dari sendiri, kini aku juga sedang mencari tahu, bagaimana konstruksi bangunan tahan gempa yang terjangkau, sebelum merenovasi rumah. Aku bersyukur, keluargaku tidak menjadi korban, tetapi berduka karena banyak warga yang tidak selamat. Semoga Tuhan mengampuni kita dan memberikan kekuatan menghadapi cobaan.

kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya, hidup sejahtera dan panjang usia

May 25th, 2006

Kategori: IKM

Slogan tersebut memang sangat populer. Bahkan, mungkin menjadi dambaan semua orang. Tetapi, memang bukan hanya impian, karena sebagian dari kita juga mengalaminya. Mereka dengan status sosial ekonomi yang lebih baik, akan memiliki risiko lebih rendah menderita sakit. Mereka yang berpendidikan biasanya akan memperoleh pekerjaan yang lebih baik dengan pendapatan lebih dari cukup. Dengan kelebihan tersebut, fasilitas yang lebih baik, lebih nyaman serta aman pun lebih mudah didapat.

Hal ini dapat dibuktikan dari peristiwa tenggelamnya kapal Titanic. Prosentasi penumpang kelas 1 yang selamat lebih banyak daripada penumpang kelas dua dan kelas tiga. Yang lebih menarik lagi adalah prosentase penumpang perempuan yang selamat lebih banyak daripada laki-laki. Mungkin karena perempuan didahulukan naik sekoci ya….

Tetapi, jumlah penumpang di kelas 1 khan memang lebih sedikit daripada kelas di bawahnya to?

Ada lagi contoh yang lain. Mereka dengan pekerjaan yang lebih baik angka mortalitasnya lebih rendah daripada kelompok pekerja yang lebih rendah. Hal yang menarik, mereka yang bekerja sendiri/wiraswasta ternyata memiliki angka mortalitas yang lebih rendah daripada para pekerja terlatih maupun tidak terlatih. Wiraswasta aja yuk…..

catatan: slide diambil atas seijin Fanny Janssen

Sistem informasi kesehatan (I): pengantar kajian literatur dan daftar tautan

May 19th, 2006

Dari dulu, aku sebenarnya kepingin nulis tentang topik ini, tetapi nggak pernah kesampaian. Ada beberapa literatur online menarik yang dapat dijadikan sebagai bahan bacaan. Beberapa memang berkaitan dengan Indonesia, namun lebih banyak lagi yang berbahasa asing.  Continue reading »

Peta flu burung untuk Google Earth

May 17th, 2006

Beritanya sih sudah basi banget kali ya… tapi karena kemarin barusan nulis tentang flu burung dan Indonesia adalah yang paling parah, yah telat gak papa… Declan Butler, seorang jurnalis, pernah menulis di Nature edisi 5 Januari 2006 mengenai peta flu burung yang dapat ditampilkan melalui Google Earth. Peta yang tersedia dalam format kml tersebut (dapat didownload di sini) memuat informasi mengenai setiap lokasi kasus flu burung baik pada manusia maupun pada unggas. Update terbaru dapat diperoleh di website Declan. Dia menggunakan data dari FAO untuk memetakan kasus pada unggas, sedangkan sumber kasus pada manusia diperoleh dari WHO maupun berbagai sumber-sumber lainnya. Di blognya, dia juga membuat rincian proses pembuatan peta tersebut.

Sayangnya, karena keterbatasan sumber data yang tidak memuat koordinat geografik, beberapa kasus akan ditampilkan tidak di lokasi sebenarnya. Hal ini sangat mungkin terjadi karena dia membuat asumsi sentroid untuk wilayah administratif setingkat distrik, apalagi untuk wilayah administratif yang terdiri dari beberapa poligon. Sehingga, tidak usah heran, jika kasus flu burung pada unggas di Lamongan akan terlempar di Laut Jawa. Nah, ini saatnya kita bisa memberikan kontribusi dengan memberikan koordinat geografis yang lebih akurat agar peta tersebut bisa lebih baik lagi. Sebagai contoh, salah satu pengunjung blognya mengirimkan update mengenai informasi yang lebih rinci tentang kasus di Mesir agar si Declan dapat memperbaiki dengan versi terbaru.

Tips: untuk menampilkan di Google Earth, pilih File –> Open kemudian buka file *.kml tersebut. Kalau diarahkan ke Indonesia, Anda akan melihat peta seperti gambar di atas.

Kategori: geografi kesehatan

Perkembangan global kasus Avian Influenza: Indonesia paling parah?

May 15th, 2006

Akhir pekan kemarin (12 Mei) WHO merilis laporan kumulatif perkembangan kasus avian influenza di seluruh dunia yang sudah mencapai 208 kasus. Saat ini, avian influenza pada manusia sudah menjangkiti 10 negara sejak pertama kali ditemukan pada tahun 2003 di Vietnam. Kesepuluh negara tersebut adalah: Azerbaijan, Kamboja, Cina, Jibouti, Mesir, Indonesia, Irak, Tailand, Turki dan Vietnam. Hingga bulan Mei ini, di Vietnam dan Tailand justru tidak dilaporkan adanya kasus pada manusia. Ada tiga negara baru yang pada tahun ini terjangkit flu burung yaitu Azerbaijan dengan 8 kasus (5 diantaranya meninggal), Jibouti 1 kasus selamat, dan Turki dengan 12 kasus dan sepertiganya meninggal. Nampaknya tanda-tanda ke arah pandemi mulai menjalar ke daratan Eropa Asia serta Afrika.

Hingga bulan keempat tahun 2006, Indonesialah yang paling parah. Dari 64 kasus yang ditemukan di seluruh dunia, 16 (25%) diantaranya terdapat di Indonesia. Angka ini sudah hampir menyamai jumlah kasus flu burung di INdonesia tahun kemarin (17 kasus). Yang menyedihkan lagi adalah, laju kematian kasus (atau case fatality rate)nya semakin tinggi. Jika pada tahun kemarin tercatat 64,7%(11 meninggal dari 17 kasus), tahun ini meningkat menjadi 87,5% (14 meninggal dari 16 kasus)!

kategori: IKM

Selamat untuk dr, Nawi Ng, MPH, PhD

May 11th, 2006


Kemarin baru saja posting tentang transisi epidemiologis, kolega saya di Bagian IKM telah menuliskannya menjadi disertasi yang menarik, Chronic disease risk factors in a transitional country The case of rural Indonesia(Faktor risiko penyakit kronis di negara dalam transisi –Studi di daerah pedesaan Indonesia) dari Department of Public Health and Clinical Medicine, Umeå University, Swedia. Disertasinya, dalam bentuk file pdf dapat didownload di sini. Pertama, saya mengucapkan selamat buat dr Nawi. Dia adalah salah satu kolega saya yang sangat smart. Semua mengakuinya. Banyak mahasiswapun menjadikannya sebagai dosen favorit karena “neranginnya enak”, “hal yang sulit menjadi mudah mudah dipahami”, tetapi “tidak mudah juga kalau sudah bicara ujian”.
Yang mengharukan dari disertasi mas Nawi adalah testimoni mengenai almarhum dr. Suharyanto Supardi, MPH, MSPH. Kita, yang sempat mengikuti kuliah beliau, paham betul dengan kebiasaan merokoknya yang mengantarnya ke peristirahatan terakhir melalui kanker paru. Sebagai yuniornya di FETP, mas Nawi mengungkapkan secara emosional kedekatan dia baik secara akademik maupun personal serta bagaimana dia mendedikasikan disertasinya untuk almarhum. Semoga Allah mengampuni, mengasihi, memaafkan kesalahan serta memudahkannya. Amien. Aspek emosional semacam ini yang tidak aku temukan di beberapa publikasi disertasi di Groningen. Mungkin karena namanya Groningen jadi garing ya… (sama-sama depannya pakai huruf G, di sini bacanya khe)
Kembali ke transisi epidemiologis, mas Nawi menguraikan dengan gamblang teori Omran tentang transisi epidemiologis serta kontroversi mengenai teori tersebut di bagian introduksinya. Selanjutnya, beliau mempertajam topiknya mengenai penyakit kronis, yang relatif terabaikan di Indonesia (baru beberapa waktu yang lalu saja khan, direktorat jendral pemberantasan penyakit menular alias PPM berganti menjadi P2PL pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan?). Salah satu hasil temuan dari penelitian di Purworejo tersebut menggarisbawahi bahwa kelompok miskin dan perempuan memiliki peningkatan prevalensi faktor risiko penyakit kronis dibanding yang lain (aduh…selalu saja dengar kabar yang tidak menggembirakan mengenai dua kelompok tersebut ya…?). Dengan pendekatan kualitatif serta menerapkan metode WHO penelitian ini memberikan insight yang lebih dalam mengenai gambaran penyakit kronis di lingkungan pedesaan di Indonesia. Dalam salah satu rekomendasinya untuk para pengambil kebijakan, mas Nawi menulis bahwa “kebijakan nasional untuk pengendalian rokok perlu menekankan pada usaha untuk mewujudkan norma bebas rokok terutama pada anak-anak dan laki-laki dewasa”. Namun, saya merasa bahwa ada kecenderungan yang cukup kuat bahwa di kalangan perempuan perkotaan, norma merokok sekarang juga menjadi salah satu nilai modernitas yang di kalangan tertentu (artis atau mereka yang bergerak di bidang entertainment) mungkin dianggap sebagai sesuatu yang sangat wajar. Bahkan ada yang beranggapan “penyanyi (perempuan) yang merokok suaranya bagus”. Anyway, selamat untuk mas Nawi, selamat meneruskan perjuangan…semoga aku cepat tertular (tertularnya akut wae…ojo kronik yo…he..he..he.)
Daftar artikel terkait dengan disertasi pak Nawi:
Using STEPS to study risk factors in rural Indonesia
Smoking Epidemics And Socio-Economic Predictors Of Regular Use And Cessation:
Findings From WHO STEPS Risk Factor Surveys In Vietnam And Indonesia
.

Transisi epidemiologis apa transisi kesehatan?

May 9th, 2006

Sering kita mendengar atau membaca dalam berbagai kesempatan – seminar, makalah, dokumen kebijakan, dll – istilah “transisi epidemiologis”. Contoh saja salah satu sambutan Menteri Kesehatan di salah satu halaman Depkes yang berkaitan dengan kesehatan Jiwa:”Berbagai perubahan yang sangat cepat telah terjadi dalam masyarakat Indonesia. Transformasi dari masyarakat agraris ke masyarakat industri, transformasi demografik dari struktur penduduk usia muda ke usia lanjut dan proses urbanisasi. Hal ini mendorong terjadinya transisi epidemiologis masalah kesehatan termasuk di dalamnya masalah kesehatan jiwa yang muncul dalam bentuk ketergantungan zat psikoaktif, penyebaran yang cepat HIV/AIDS yang terkait dengan perilaku seksual dan tindak kekerasan baik dalam rumah tangga maupun di masyarakat…….”

Saya tidak akan menulis tentang kesehatan jiwa tentu saja. Tentang transisi epidemiologis ini, adalah Abdel Omran yang pertama kali mencetuskan teori tersebut pada tahun 1971. Dengan mengamati perkembangan kesehatan di negara industri sejak abad 18, dia menuliskan bahwa ada 3 fase transisi epidemiologis yaitu 1)The age of pestilence and famine, yang ditandai dengan tingginya mortalitas dan berfluktuasi serta angka harapan hidup kurang dari 30 tahun, 2)The age of receding pandemics, era di mana angka harapan hidup mulai meningkat antara 30-50 dan 3)The age of degenerative and man-made disease, fase dimana penyakit infeksi mulai turun namun penyakit degeneratif mulai meningkat. gambaran itu memang untuk negara Barat.Kritikan dari beberapa tokoh seperti Rogers dan Hackenberg (1987) dan Olshansky and Ault(1986) membuat Omran melakukan sedikit revisi. Bagi negara Barat, ketiga model tersebut ditambah 2 lagi yaitu: 4)The age of declining CVD mortality, ageing, lifestyle modification, emerging and resurgent diseases ditandai dengan angka harapan hidup mencapai 80-85, angka fertilitas sangat rendah, serta penyakit kardiovakular dan kanker, serta 5)The age of aspired quality of life with paradoxical longevity and persistent inequalities yang menggambarkan harapan masa depan, dengan angka harapan hidup mencapai 90 tahun tetapi dengan karakteristik kronik morbiditas, sehingga mendorong upaya peningkatan quality of life.

Selain itu, Omran juga membuat revisi model transisi epidemiologis untuk negara berkembang dengan mengganti fase ketiganya menjadi “The age of triple health burden” yang ditandai dengan 3 hal yaitu: a) masalah kesehatan klasik yang belum terselesaikan (infeksi penyakit menular), b)munculnya problem kesehatan baru dan c)pelayanan kesehatan yang tertinggal (Lagging). Sehingga, yang menjadi pertanyaan adalah jika negara berkembang sudah dapat mencapai angka harapan hidup 70 tahun, apakah mereka juga akan mengikuti fase keempat dan kelima seperti di negara Barat? Apakah nanti ada proposisi baru dari Omran? Sehingga, yang kita saksikan, memang tidak hanya transisi dalam aspek epidemiologis saja, tetapi sistem pelayanan kesehatan menjadi salah satu kunci pentingnya.

- online valtrex order - buy asacol - spy a cell phone - generic levitra -